
Hady Mirza..ha…ha…
Pada abad ke-18, hiduplah seorang Kyai besar bernama Kyai Ageng Hasan Bashari atau Besari di desa Tegalsari. Tegalsari adalah sebuah desa terpencil lebih kurang 10km ke selatan Ponorogo. Di sinilah Kyai Ageng mendirikan sebuah pondok yang di kenal dengan Pondok Tegalsari. Dalam sejarah, Pondok ini pernah mengalami masa keemasan dan menyumbangkan jasa yang besar dalam pembangunan bangsa indonesia. Ribuan santri datang menuntut ilmu di pondok ini termasuk di antaranya adalah Paku Buana II atau Sunan Kumbul, Raden Ngabehi Ronggowarsito dan tokoh pergerakan nasional H.O.S Cokroaminoto.
Gontor adalah sebuah desa yang terletak kurang lebih 3km sebelah timur Tegalsari. Pada saat itu Gontor masih merupakan hutan belantara yang jarang didatangi orang. Hutan ini dekenal sebagai tempat persembunyian perampok, penjahat, penyamun dan pemabuk. Jelasnya, tempat ini adalah tempat kotor dan sumber dari segala kotoran. Dalam bahasa jawa, tempat yang kotor disebut nggon kotor, yang disingkat menjadi "gon-tor". Di desa inilah Kyai Sulaiman Jamaluddin diberi amanat untuk merintis pondok pesantren seperti Tegalsari dengan bekal 40 santri. Pondok inilah yang menjadi cikal bakal dari Pondok Modern Gontor saat ini.
Ketiga putra Nyai Santoso yang sering disebut "trimurti" itulah yang menghidupkan kembali Pondok Gontor. Pembukaan kembali Pondok Gontor itu secara resmi dideklarasikan pada Senin Kliwon, 20 September 1926 bertepatan dengan 12 Rabi’ul Awwal 1345 dalam peringatan Maulid Nabi di hadapan masyarakat.
Langkah pertama untuk menghidupkan kembali pondok gontor adalah dengan membuka Tarbiatul Athfal [TA], suatu program pendidikan tingkat dasar. Materi, sarana dan prasarana pendidikan sangat sederhana. Tetapi, berkat kesungguhan pengasuh gontor baru, usaha ini membangkitkan semangat belajar masyarakat Desa Gontor. Minat yang sangat tinggi ini diantisipasi dengan mendirikan cabang-cabang TA di desa-desa sekitar Gontor yang ditangani oleh kader yang telah disiapkan.
Setelah enam tahun TA berdiri, mulailah dipikirkan upaya untuk pengembangan TA dengan membuka program lanjutan yang di beri nama "Sullamul Muta’allimin" [SA], tahun 1932. Pada tingkat ini, para santri diajari secara lebih mendalam dan luas ilmu-ilmu agama, pidato, diskusi, juga diberi sedikit bekal untuk menjadi guru. Disamping itu, mereka juga diajari ketrampilan, kesenian, olahraga, kepanduan dan lainnya.
Kehadiran TA dan SA telah menggugah minat belajar masyarakat. Perkembangan tersebut cukup menggembirakan hati dan sangat disyukuri oleh Pengasuh Pesanten. Kesyukuran yang ditandai dengan acara 10 tahun pondok, menjadi semakin lengkap dengan pembukaan program pendidikan baru tingkat menengah pertama dan menengah atas yang dinamakan Kulliyatul Mu’allimin Al-Islamiyyah [KMI] atau sekolah guru islam, yang menandai kebangkitan sistem pendidikan modern di lingkungan pesantren.
]. Makanya pepatah ’sedia payung sebelum hujan’ tuh bener banget. Tapi kalau perginya naik motor yah…sedia mantel dung, kan lucu kalau naik motor pakai payung [ada yang mau coba??..].
. Tapi, kayaknya dia sangat membutuhkan bantuanku, jadi aku ambil payung dan nyusul dia.
Panen apelnya sudah lumayan lama, tapi masih asik saja mengingat kejadian itu. Seru banget. Waktu itu cuma aku dan lia yang bisa ke pujon untuk panen apel. Nggak nyangka juga sih bisa panen apel. Habis, biasanya sudah niat panen ternyata sampai sana tidak ada satupun apel yang bisa di petik bahkan di pegang. 

Ini bukan kebun apelku. Tapi punya pak Parni Hadi. Kebetulan omku yang ditugaskan beliau untuk mengelolanya. Letaknya di dekat pasar Mantung, pujon. Saat ini, kebun apel akan di kembangkan menjadi PUSAT REHABILITASI TANAMAN APEL MALANG. Disana akan di buat tempat pelatihan, asrama dan fasilitas outbound. Selain di tamani apel, di sana juga di tanami jeruk, kopi dan lainnya.

Naning ini adalah anak tetanggaku. Sekarang sudah kelas 3 SMP. Dua minggu yang lalu, dia minta aku untuk memberi les beberapa mata pelajaran yang akan di ujikan saat ujian akhir sekolah. Katanya sih, cuma 4 mata pelajaran. Aku langsung menyetujuinya, mengingat, saat malam aku tidak punya kegiatan. Selasa, rabu, kamis dan jum’at malam adalah waktu yang kita sepakati untuk les.
Hari pertama les, dia minta di ajarin ekonomi [kayanya ekonomi…lupa sih hehe..]. Kebetulan dia ada PR. Setelah aku baca soalnya, ternyata di suruh membuat poligon dan mencari median. Aku langsung inget mata kuliah statistik. Setelah aku jelaskan, aku suruh dia mengerjakan sendiri. Nggak lama, aku koreksi pekerjaannya. Lalu aku kasih soal lagi yang serupa biar dia benar-benar paham.
Besoknya, pelajaran matimatika. Seperti hari sebelumnya, aku jelaskan sedikit lalu kasih soal-soal latihan. Kamis malam, bahasa inggris. Ternyata, kosakata bahasa inggris dia masih kurang. Makanya dia kesulitan untuk menjawab pertanyaan dari soal-soal latihan di buku. Akhirnya, aku beri dia tugas untuk menghapal kosakata yang sederhana dan menuliskannya dengan benar. Biarpun dia agak kesulitan, tapi lama-lama bisa juga.
Jum’at malam, ternyata biologi. Waduh, inget nggak yah. Maklum lah, sudah lama banget nggak bersentuhan dengan pelajaran yang satu ini. Apalagi dia dapat soal latihan dari sekolah yang harus di selesaikan. Mana dia tidak punya buku paket dan catatan dari gurunya pun cuma sedikit. Aku coba cari buku-buku IPA adikku. Ternyata bukunya juga sudah di berikan ke tetangga. Yah..hasilnya malam itu aku minta maaf karena nggak semua soal bisa di jawab.
Waktu ke rumah whidha, kebetulan dia masih punya beberapa buku biologi. Aku pinjam aja, lumayan buat baca-baca. Nggak nyangka ternyata sekarang aku harus belajar biologi lagi. Yah, dari pada baca novel terus. Betul tidak???
dengan vitamin B15 tunggal.
1. Penyakit Asma (Bengek)
2. Penyakit basedov/hipertiroid
3. Diabetes melitus
4. Obesitas.
5. Kista ovarium.
Untuk mengobati penyakit, dosis yang dianjurkan 2x1 sdm tiap pagi dan sore. Bila perlu dosis dapat ditambah 3x1 sdm tiap pagi, siang dan sore atau 2x2 sdm tiap pagi dan sore, atau 3x2 sdm tiap pagi, siang dan sore.
1. Kadang-kadang terjadi diare pada permulaan konsumso bekatul, tetapi selanjutnya akan biasa lagi. Kalau masih diare, kurangi dosisnya, misalnya setengah sdm tiap sore untuk penyesuaian.
2. Kadang-kadang susah buang air besar (sangat jarang terjadi), Disarankan makan pepaya atau campur bekatul dengan agar-agar.
3. Kadang-kadang muncul rasa mual pada penderita maag. Kepada mereka disarankan mengasup bekatul yang lebih enceer dan jangan sekaligus, misalnya 1 sdm dicampur dengan 1 gelas air minum atau agar-agar. Dengan cara ini sakit maag akan berkurang, bahkan berangsur-angsur menyembuh.
Buku ini adalah panduan empatik mengarang fiksi atau menulis.Buku ini mengupas seluk beluk kepenulisan. Yang unik dari buku ini adalah menyajikan berbagai nasehat praktis menulis maupun saran-saran yang dapat memberi semangat untuk menulis dalam bentuk surat-menyurat fiktif antara penulis dan editor. Dengan buku ini, diharapkan membuat emosi kita dalam menulis menjadi berwarna, kaya raya, dan siap untuk meluncurkan ide-ide yang tidak hanya satu.
Kiat-kiat yang diberikan dalam buku ini juga layak disimak. Dari bagaimana cara mencari ide cerita dan berimajinasi, cara mengawali dan mengakhiri cerita, sampai mengirimkan naskah yang sudah selesai di buat ke majalah atau penerbit. Semua itu di bahas dalam buku ini dengan bahasa yang mudah di pahami.
Yang paling aku suka dalam buku ini adalah ketika penulis menerangkan tentang penggunaan kata sifat dan kata keterangan. Karena menurutnya, kata sifat layaknya api. Kecil jadi teman, besar jadi lawan. Jadi seoarang penulis tidak boleh berlebihan dalam memberikan kata sifat, biar kisah yang sedang di buatnya tidak kehilangan nyawa. Walau pun, ada satu hal juga yang tidak aku setujui yaitu mengesampingkan pekerjaan rumah tangga karena dedikasi pada panggilan hidup sebagai penulis.
Menurut penulis, kapan pun ide itu muncul, tulis saja, tidak perduli apa yang sedang kita lakukan. Menurut aku, ada cara lain yang lebih baik. Kita buat jadwal menulis setaip harinya. Misalkan menulis setiap pagi. Sedangkan jika mendadak mempunyai ide tulisan, kita tulis pada kertas atau buku yang sudah kita sediakan sehingga pekerjaan lain tidak terbengkalai.
Penulis, tentu saja tidak perlu di ragukan lagi dalam dunia kepenulisan. Selain menjadi pengajar yang sangat berpengalaman, Dia sudah menghasilkan tiga novel serta tiga kumpulan cerpen dan buku yang memberikan inspirasi bagi penulis. Dia juga seorang editor untuk dua antologi. Bagi kamu-kamu yang mau belajar menulis, buku karya Carmel Bird yang di terbitkan Kaifa ini layak di baca. Atau…mau pinjem juga boleh kok…
Setelah sekian lama, akhirnya pengumuman dosen pembimbing skripsiku di tempel juga. Hampir tiga minggu setelah seminar. Waktu itu, aku dan whidha mau menyerahkan revisi proposal judul kita di BAAK [hehe…kita juga telat…sih]. Lucunya, ketika akan menyerahkan revisi, revisinya whidha tertinggal di rumah [ckckck…aduh nek….ko pikun]. Kita dapat pembimbing yang sama.
Pembimbing pertama namanya pak Henry. Dosen ini sangat menyenangkan, bisa dibilang dosen favorit. Mungkin karena tidak pelit terhadap nilai. Atau mungkin juga cara mengajarnya yang asyik sehingga tidak membosankan. Tapi, beliau sibuk sekali dan beliau juga mengajar di UM sehingga jarang terlihat di kampus. Pertama kali konsultasi, aku dan whidha kerumahnya. Karena baru pertama kali ke sana, kita sukses nyasar hehehe..
Pembimbing kedua, pak Yerry. Mmm…Beliau bisa dikatakan dosen killer. Tapi kalau menurut aku, beliau sangat tegas dan disiplin. Nasehat teman-teman semester atas, jangan sampai macam-macam sama beliau. Karena bisa dapat nilai yang jelek atau bahkan tidak lulus beberapa kali dalam mata kuliah yang di ajarkan. Tugas yang diberikan sangat banyak dan harus presentasi langsung ke beliau. Ketika presentasi, pertanyaannya sangat detail, jadi harus bener-bener siap.
Tapi untungnya, dengan cara beliau mengajar yang seperti itu, membuat aku terpacu dan bertekad lulus dalam semua mata kuliah yang di ajarkan. Dan hasilnya, aku selalu lulus. Makanya, aku pilih beliau jadi pembimbing, biar aku terpacu untuk cepat menyelesaikan skripsiku dengan baik. Mohon do’a dari semuanya yah….
