cerita2...March 4, 2008 8:13 am

Ternyata…sudah lama banget aku nggak nulis. Tau niy ngapain aja sampai nggak menyempatkan diri tuk nulis. Padahal bulan lalu kan liburan kuliah, tapi kok ya..sampai nggak ada satu pun tulisan yang muncul. Payah dan kebangetan banget deh…

Sebenarnya bukan karena kehabisan ide nulis, atau nggak punya cerita menarik yang bisa di ceritain. Justru banyak hal yang bisa aku ceritakan, dari mulai ujian semesterku, sampai lembur ngeprint raport di SMA singosari sampai jam 1 malam. Tapi yah…gitu dey, malesnya di turutin jadi tulisan nggak kelar-kelar.   

Tapi sekarang mau mulai nulis lagi ah, udah kangen banget sama nulis. Apalagi ini berhubungan dengan cita-citaku sendiri. Yah, walau mungkin nggak bisa sebanyak dulu lagi, namanya juga baru mulai lagi. Dari pada kosong blong nih blog. Yang penting SEMANGAT dulu lah… 

cerita2...January 6, 2008 8:04 am

Akhir desember kemarin, aku dapet ponakan baru nih. Anak ke dua dari sepupuku. Anak pertamanya laki-laki, dan sekarang dapet laki-laki lagi. Kalau ada anggota keluarga baru, aku paling suka nyumbang nama. Nama anak pertamanya, juga dari sumbanganku [hehehe…sumbangan coba..]. Waktu itu aku nyumbang nama "raihan" yang artinya wangi surga. So, nama panjangnya raihan brevial haq. Keren kan???

Makanya, waktu tau istri sepupuku itu sudah melahirkan, aku, kak nana dan whidha nggak buang-buang waktu untuk mencari nama. Cari di buku, sampai di kamus. Akhirnya ketemu lah nama yang kira-kira cocok. Fahri Yukitaro el Kanza. Fahri artinya kebanggaan, yukitaro artinya berani dan kanza artinya piala. Maksudnya sih, biar itu anak menjadi pemberani dan seperti piala yang bisa menjadi kebanggaan keluarga. Aku sms ke sepupuku. Katanya sih bagus, tapi dia juga masih nunggu sumbangan nama lain.

Beberapa hari lalu, aku baru bisa nengok anaknya sama papa, mama dan kak nana. Aduh, anaknya cakep banget. Imut dan nggak rewel. Waktu ke sana, bayinya lagi tidur. Pules banget. Pengennya aku gangguin gitu deh, biar bangun. Tapi nggak tega. Oya, bayinya di kasih nama Bianveneida Madiva Kanza. Sayangnya, aku kemarin lupa menanyakan arti namanya. Tapi pasti artinya bangus, kan nama adalah do’a. Selamat datang bian…

cerita2...December 26, 2007 6:43 am
Idul adha baru seminggu berlalu, dan tidak terasa kita sudah memasuki minggu terakhir bulan desember atau minggu terakhir sebelum tutup tahun. Pastinya banyak hal yang sudah kita lalui. Nggak terasa waktu cepet berlalu. Masih segar dalam ingatan kejadian-kejadian saat idul adha tahun-tahun sebelumnya. Dan ini membuat aku banyak bersyukur karena masih bisa melewati satu idul adha lagi.
 
Saat umurku belum menginjak 5 tahun, orang tuaku pindah ke Jakarta. Mengontrak di daerah pejaten timur, pasar minggu. Rumah kontrakanku waktu itu dekat dengan sebuah madrasah, namanya Pesantren As-Syifa. Aku mulai masuk As-syifa ketika sudah masuk SD. Seingat aku, mama juga mengajar di As-syifa sehingga aku jadi sangat dekat dengan para pengajar [ustadz] yang kebanyakan masih bujangan.
 
Nah, waktu idul adha sudah pasti As-syifa ramai banget. Setelah sholat id di lapangan yang nggak jauh dari rumah, semua warga sekitar yang tinggal dekat as-syifa berkumpul untuk membantu pemotongan hewan kurban. Bahkan santri As-syifa berdatangan, ikut-ikutan sibuk [maksudnya, sibuk sendiri he..]. Selesai memotong kurban, kita makan-makan dengan ustadz di rumahku atau di rumah ketua yayasan as-syifa, Pak zamzam [ayah dari sahabatku]. Lalu, aku sekeluarga pindah ke rumah sendiri. Tapi jaraknya nggak jauh dari As-syifa sehingga setiap idul adha, aku masih bisa melihat pemotongan kurban di sana.
 
Kelas 5 SD, papa ditugaskan menjadi konsultan di Dompu, NTB. Mama, kak nana, aku dan lia masih di Jakarta. Kontaknya sih cuma 1 tahun, tapi kalau membawa keluarga menjadi 3,5 tahun. Sekitar 2 bulan di Dompu, papa merayu kami untuk ikut ke sana dengan iming-imingan naik pesawat. Cuma mama yang nggak tertarik mendengar tawaran papa, jadi tapi kita semua membantu papa untuk merayu mama. Akhirnya mama nyerah dan kami semua nyusul papa. Jadi, kita merasakan lingkungan baru, rumah baru, sekolah baru, dan otomatis suasana idul adha yang baru.
 
Menurutku, idul adha disana lebih rame dari pada idul fitri. Semua orang bersemangat untuk ikut takbiran dan silaturahmi saat idul adha. Kita semua holat id di lapangan depan kantor bupati. Berangkat dari rumah bersama beberapa karyawan papa. Habis sholat, potong kambing di kantor lalu makan-makan di rumah. Hampir seluruh karyawan papa datang baik untuk membantu potong kambing atau makan-makan. Makanannya pun nggak cuma daging kambing aja, tapi ada udang, rajungan dan ikan. Maklumlah, segala jenis ikan di Dompu sangat murah. Jadi kebayang dong gimana ramenya.
 
Lulus SD, aku merayakan idul adha di Pondok. Pertama kali ikut sholat id di pondok, sedih banget nggak bisa bareng keluarga. Papa dan mama pun nggak bisa datang jenguk aku dan kakak karena sedang menunaikan ibadah haji. Malam takbiran, seluruh santri takbiran keliling pondok dan kumpul di masjid. Setelah takbiran sebentar di masjid, lalu tiap asrama dibagi untuk takbir bergiliran. Paling nggak enak dapat giliran tengah malam. Baru tidur sebentar, sudah harus bangun untuk takbiran. Walhasil, di masjid bukannya takbiran tapi meneruskan tidur hehe..
 
Paginya, kita cepat-cepat bangun untuk mandi, bersih-bersih kamar atau sekitar asrama dan juga siap-siap sholat id. Suasananya rame banget karna sholat id bukan hanya untuk santri, tapi dibuka untuk umum. Setelah sholat, kita bisa melihat pemotongan puluhan hewan kurban yang dilakukan ustadz. Sedangkan Ustadzah dan kelas 6 yang ditugaskan untuk menguliti, memotong-motong, menimbang dan membagikan daging. Ada juga yang kebagian membersihkan jeroan hewan kurban di sungai dekat pondok.
 
Selama 6 tahun mondok, kelas 6 adalah idul adha yang paling berkesan. Yah, aku dan temen-temen seangkatanlah yang membantu proses pemotongan hewan kurban. Aku kebagian tugas untuk memotong daging yang sudah dikuliti [untung nggak disuruh megangin hewan yang mau di sembeleh hiy…]. Darah yang masih banyak di daging membuat aku nggak kuat lama-lama memotongnya. Aku pindah ke bagian penimbangan [enakkan???curang sih he..].
 
Siang, acara pemotongan di hentikan. Karena masih ada beberapa hewan yang belum di sembelih, maka dilanjutkan keesokan harinya. Sorenya, aku kekamar teman. Kaget juga ngeliat dia lagi nyate apalagi nyate dengan cara ajaib. Gimana nggak ajaib, lah itu sate dibakar di atas setrikaan [eits..strika areng lah..]. Lagi pula, nggak tau gimana cara dia bisa menyelundupkan daging. Tapi, aku ikutan makan juga sih, kapan lagi bisa nyate bareng temen-temen [jangan di tiru nih..].
 
Lulus pondok, aku pindah ke malang. Aku merayakan idul adha lagi bareng keluarga. Dua tahun lalu, aku cari hewan kurban sampai di Batu. Dapat 2 kambing. Karena nggak punya kendaraan lain, maka di masukkan bagasi mobil. Lucunya ketika di jalan, kambingnya berdiri sampai tutup bagasi kebuka. Untungnya nggak sampai kabur tuh kambing. Walau, sempat jadi tontonan orang-orang dipinggir jalan.
 
Paling berkesan adalah idul adha tahun lalu yang jatuh pada 31 Desember. Aku harus merayakan idul adha sendiri. Papa, mama dan zahwa ke Dompu sedangkan lia masuk pondok dan kak nana di jakarta. Walhasil, aku di malang ditemani sahabatku, Whidha. Papa ninggalin uang untuk beli kambing. Karena aku nggak berpengalaman beli, aku nitip ke tetangga.
 
Sehabis sholat id, tetanggaku manggil aku untuk melihat pemotongan kurban tapi aku memilih nemenin whidha yang kebetulan lagi kurang sehat. Akhirnya, aku cuma nonton TV aja di rumah. Bosen sih, tapi mau gimana lagi. Nggak taunya aku dan whidha tertidur di depan TV dan bangun-bangun, sudah ada sate dan gule tersedia di meja makan lengkap dengan nasi dan sambal. Wah, tetanggaku memang baik banget deh. Kita tinggal makan aja.
 
Banyak hal yang terjadi selama idul adha yang harus aku syukuri. Dari idul adhaku dulu sampai yang sekarang. Idul adha di berbagai tempat yang berbeda menjadikan aku kaya pengalaman [sok tua nih hehe…]. Idul adha juga mengajarkan aku untuk berbagi, dengan siapa saja. Apa lagi saat idul adha di pondok. Kadang, aku sangat merindukan suasana idul adha di pondok. Tapi aku nggak mungkin balik ke masa lalu. Harapanku, semoga suatu saat, aku bisa membeli kurban dengan hasil jerih payahku sendiri. Amien…
cerita2...December 13, 2007 8:03 am
Namanya juga musim hujan, jadi hujan turun nggak lihat waktu. Mau pagi, siang, sore atau malam. Biarpun aku suka sekali dengan yang namanya hujan-hujanan atau kadang suka pura-pura kehujanan, [jujur aja, aku paling males bawa payung], ketika keluar rumah dan kebetulan aku baru ganti baju trus kehujanan, yah sebel juga [tapi banyakan senengnya…emoticon]. Makanya pepatah ’sedia payung sebelum hujan’ tuh bener banget. Tapi kalau perginya naik motor yah…sedia mantel dung, kan lucu kalau naik motor pakai payung [ada yang mau coba??..].
 
Kira-kira dua hari yang lalu, whidha yang setiap hari memang datang ke rumah, akan pulang. Waktu itu, langit mendung. Dia tetap nekat mau pulang, padahal aku sudah melarang. Lalu, aku suruh saja bawa payungku. Tapi dia menolak, katanya nggak enak pinjem terus. Baru beberapa meter meninggalkan rumah, hujan mulai turun. Aku langsung keluar dan melihat whidha yang terus jalan. Aku coba panggil dia. Bukannya balik ke rumah, dia malah lari. Wah..berarti dia nggak denger panggilanku. Terlintas ide dalam otakku, untuk ke musholah samping rumah, pinjam mic trus manggil dia. Tapi, kayanya ide itu terlalu gila [yaiyalah….]. 
 
Akhirnya, aku masuk ke kamar. Nggak tenang juga mikir sahabatku yang satu ini. ‘bertrduh dmn nek??lagian d srh bw payung ja susah bgt…’ sms ku ke dia. Nggak lama, ada sms masuk ke hp ku. ‘kekekek…d dpn mushola ke 2 biz rmh lo,,lo mu bwain gw payung?duuh..makasiy bgt lo yaa :p’, ternyata dia balas smsku. Ada yang aneh juga sih dengan balasannya. Lah, siapa juga yang nawarin bantuan untuk bawain dia payung???emoticon. Tapi, kayaknya dia sangat membutuhkan bantuanku, jadi aku ambil payung dan nyusul dia.  
 
Dari jauh, aku lihat dia cengar-cengir. Lalu mendekati aku. Waktu itu, hujan memang sudah tidak terlalu deras. Setelah mengambil payung yang aku bawa, dia pulang begitu juga aku. nggak lama, hujan turun lagi dan lebih deras. Untung, dia tadi sudah bawa payung. Lain kali jangan sungkan yah minjem payungku. Gratis ko…hehehe…   
cerita2...December 10, 2007 6:27 am

lia Panen apelnya sudah lumayan lama, tapi masih asik saja mengingat kejadian itu. Seru banget. Waktu itu cuma aku dan lia yang bisa ke pujon untuk panen apel. Nggak nyangka juga sih bisa panen apel. Habis, biasanya sudah niat panen ternyata sampai sana tidak ada satupun apel yang bisa di petik bahkan di pegang. aku niy

Ini bukan kebun apelku. Tapi punya pak Parni Hadi. Kebetulan omku yang ditugaskan beliau untuk mengelolanya. Letaknya di dekat pasar Mantung, pujon. Saat ini, kebun apel akan di kembangkan menjadi PUSAT REHABILITASI TANAMAN APEL MALANG. Disana akan di buat tempat pelatihan, asrama dan fasilitas outbound. Selain di tamani apel, di sana juga di tanami jeruk, kopi dan lainnya.

 

cerita2... 5:48 am

Naning ini adalah anak tetanggaku. Sekarang sudah kelas 3 SMP. Dua minggu yang lalu, dia minta aku untuk memberi les beberapa mata pelajaran yang akan di ujikan saat ujian akhir sekolah. Katanya sih, cuma 4 mata pelajaran. Aku langsung menyetujuinya, mengingat, saat malam aku tidak punya kegiatan. Selasa, rabu, kamis dan jum’at malam adalah waktu yang kita sepakati untuk les.

Hari pertama les, dia minta di ajarin ekonomi [kayanya ekonomi…lupa sih hehe..]. Kebetulan dia ada PR. Setelah aku baca soalnya, ternyata di suruh membuat poligon dan mencari median. Aku langsung inget mata kuliah statistik. Setelah aku jelaskan, aku suruh dia mengerjakan sendiri. Nggak lama, aku koreksi pekerjaannya. Lalu aku kasih soal lagi yang serupa biar dia benar-benar paham.  

Besoknya, pelajaran matimatika. Seperti hari sebelumnya, aku jelaskan sedikit lalu kasih soal-soal latihan. Kamis malam, bahasa inggris. Ternyata, kosakata bahasa inggris dia masih kurang. Makanya dia kesulitan untuk menjawab pertanyaan dari soal-soal latihan di buku. Akhirnya, aku beri dia tugas untuk menghapal kosakata yang sederhana dan menuliskannya dengan benar. Biarpun dia agak kesulitan, tapi lama-lama bisa juga.

Jum’at malam, ternyata biologi. Waduh, inget nggak yah. Maklum lah, sudah lama banget nggak bersentuhan dengan pelajaran yang satu ini. Apalagi dia dapat soal latihan dari sekolah yang harus di selesaikan. Mana dia tidak punya buku paket dan catatan dari gurunya pun cuma sedikit. Aku coba cari buku-buku IPA adikku. Ternyata bukunya juga sudah di berikan ke tetangga. Yah..hasilnya malam itu aku minta maaf karena nggak semua soal bisa di jawab.  

Waktu ke rumah whidha, kebetulan dia masih punya beberapa buku biologi. Aku pinjam aja, lumayan buat baca-baca. Nggak nyangka ternyata sekarang aku harus belajar biologi lagi. Yah, dari pada baca novel terus. Betul tidak???

cerita2...November 22, 2007 5:29 am
Saking semangatnya, papa yang sudah membaca artikel-artikel tentang bekatul, menceritakannya berulang kali buat kita sekeluarga. Apalagi, pamanku yang di jakarta sudah mencobanya. Mama, kak nana, aku, lia dan zahwa tanpa bosan tetap mendengarkan dengan baik. Cerita di rumah, ketika makan, nonton TV bahkan di sepanjang jalan saat mudik ke ngawi. Lama-lama, kita jadi ikut tertarik untunk mencoba makan bekatul. Apalagi ternyata mama sudah merasakan makan bekatul ketika masih kecil. Maklumlah, waktu itu zaman masih susah sehingga beras merupakan makanan mewah.
 
Setelah lebaran, papa ngajak mencari bekatul. Tapi sayangnya, suasana lebaran menjadikan tempat-tempat penggilingan padi masih tutup. Bahkan ketika bersilaturahmi ke saudara yang mempunyai usaha penggilingan padi, tetap saja tidak mendapatkan bekatul baru. Tapi usaha tetap di lanjutkan, mencari dan terus mencari hehehe..[berlebihan..]. Suatu hari, ketika kita pulang dari belanja kebutuhan lia dan zahwa di sragen, kita menemukan tempat penggilingan padi yang sudah buka.
 
Tanpa pikir panjang, kita turun untuk melihat apakah ada bekatul baru dan membelinya. Ibu pemilik penggilingan padi awalnya heran kenapa ada orang yang mencari bekatul dalam jumlah sedikit [biasanya, orang membeli berpuluh-puluh kilo untuk…makanan ternak broo…]. Setelah kita terangkan bahwa ini untuk konsumsi pribadi, ibunya menyarankan untuk mengayak bekatulnya terlebih dahulu. Atau membeli padi baru dan menumbuknya sendiri untuk mendapatkan bekatul yang lebih baik [aduh bu…hari gini beli lesung di mana???].
 
Sesampainya di malang, tanpa membuang-buang waktu, kita mengayak bekatulnya. Dari 3kg yang kita beli, hanya tinggal setengahnya. Bekatul halus hasil ayakan, langsung di sangrai sama mama biar awet. Sedangkan sisanya, di kasihkan tetangga yang kebetulan memelihara ayam [mmm…makanan ternak betulan deh..]. Sorenya, dengan semangat 45, papa mengaduk 8 sendok makan bekatul [dengan asumsi 1 orang memakan 2 sendok, sedangkan lia dan zahwa bebas dari pesta makan bekatul karna sudah di pondok] dengan air panas, lalu di atasnya diberi irisan gula merah.
 
Mama memulainya dengan memakan setengah sendok, begitu juga papa lalu kak nana. ‘Kok, rasanya begini yah??’ papa memberi komentar. ‘Rasanya aneh!!’ sambung kak nana. ‘Ya rasanya memang begini, kalau enak nggak mungkin di kasihkan ayam tau….’ sambung mama. Waduh, semangatku langsung menurun. Tinggal semangat 22,5 dari yang awalnya yang semangat 45. Aku langsung mau melarikan diri. Tapi setelah dipaksa, dibilang tidak setia kawan dengan keluarga [maksute??], aku suapkan sepucuk sendok bekatul. Langsung telan lalu ambil langkah seribu.
 
Mmm…sebenarnya bukan rasanya yang tidak enak, tapi baunya. Baunya seperti tepung yang sudah kelamaan disimpan. Apek. Setelah pesta makan bekatul yang gagal, aku, mama dan kak nana belum mencoba makan bekatul lagi. Papa saja yang masih rajin dengan mencoba berbagai macam cara biar bekatul terasa enak. Nanti kalau sudah dapat resep enak makan bekatul, aku coba lagi deh. Semangat yah pa…
cerita2...November 14, 2007 2:48 am

Setelah sekian lama, akhirnya pengumuman dosen pembimbing skripsiku di tempel juga. Hampir tiga minggu setelah seminar. Waktu itu, aku dan whidha mau menyerahkan revisi proposal judul kita di BAAK [hehe…kita juga telat…sih]. Lucunya, ketika akan menyerahkan revisi, revisinya whidha tertinggal di rumah [ckckck…aduh nek….ko pikun]. Kita dapat pembimbing yang sama.

Pembimbing pertama namanya pak Henry. Dosen ini sangat menyenangkan, bisa dibilang dosen favorit. Mungkin karena tidak pelit terhadap nilai. Atau mungkin juga cara mengajarnya yang asyik sehingga tidak membosankan. Tapi, beliau sibuk sekali dan beliau juga mengajar di UM sehingga jarang terlihat di kampus. Pertama kali konsultasi, aku dan whidha kerumahnya. Karena baru pertama kali ke sana, kita sukses nyasar hehehe..

Pembimbing kedua, pak Yerry. Mmm…Beliau bisa dikatakan dosen killer. Tapi kalau menurut aku, beliau sangat tegas dan disiplin. Nasehat teman-teman semester atas, jangan sampai macam-macam sama beliau. Karena bisa dapat nilai yang jelek atau bahkan tidak lulus beberapa kali dalam mata kuliah yang di ajarkan. Tugas yang diberikan sangat banyak dan harus presentasi langsung ke beliau. Ketika presentasi, pertanyaannya sangat detail, jadi harus bener-bener siap.

Tapi untungnya, dengan cara beliau mengajar yang seperti itu, membuat aku terpacu dan bertekad lulus dalam semua mata kuliah yang di ajarkan. Dan hasilnya, aku selalu lulus. Makanya, aku pilih beliau jadi pembimbing, biar aku terpacu untuk cepat menyelesaikan skripsiku dengan baik. Mohon do’a dari semuanya yah….     

cerita2...October 28, 2007 1:10 am

Kuliah lagi…kuliah lagi….Yah, mau gimana lagi, masa mau liburan sepanjang masa. Habis libur lebaran [walau agak terlambat karena aku pakai acara molor liburan], hal pertama yang dilakukan pasti minta maaf secara langsung ke temen-temen, dosen, karyawan kampus, OB, satpam, sampai tukang bakso di kampus. Setelah itu, tukar cerita sama temen-temen.

Selain tukar cerita, back 2 campus kali ini, aku harus mempersiapkan diri menghadapi seminar judul. Bukan hal besar sih, tapi tetep aja buat aku ketar-ketir. Mana tugas belum ada yang aku kerjakan. Salahku sendiri sih, nunda-nunda buat tugas. Jadi sekarang lagi nyicil buat tugas sedangkan seminar judul sudah berlalu kemarin.

Lega juga setelah melalui seminar. Ada sedikit revisi di batasan masalah. Juga di latar belakang yang menurut dosen penguji terlalu panjang. Yang penting judulku di terima dan semoga aku nggak mulai menunda-nunda [lagi…] buat skripsi. Oya, untuk temenku yang belom di terima judulnya, jangan putus asa yah….SEMANGAT!!!!!!  

cerita2... 12:31 am

Setelah puasa 1 bulan, tentu saja lebaran adalah saat yang di tunggu-tunggu. Waktu masih kecil, lebaran itu berarti baju baru dan salam tempel emoticon. Karena sekarang aku sudah besar [cieee….], jadi nggak mungkin lagi mengharapkan baju baru dan salam tempel [tapi kalau ada ya nggak nolak hehehe…]. Kalau sekarang, aku suka sekali bantu menyiapkan menu lebaran. Baik itu menu cemilan atau menu makanan.

Ada perbedaan besar dalam menyiapkan menu lebaran di ngawi dan jember. Di jember, mbah putriku menyiapkan cemilan yang renyah-renyah. Seperti kripik, kerupuk, atau rempeyek. Mbahku sangat pintar membuatnya. Jangan tanya rasanya, karena kalau sudah mencoba, ditanggung pasti tidak mau berhenti. Pokoknya, rasanya sangat pas di lidah [kayak promosi aja…].

Sedangkan di ngawi, bulekku menyiapkan menu-menu basah. Bukan kripik, krupuk atau rempeyek yang sudah di siram air, tapi menunya berupa tape ketan, madu mongso atau mendut. Biasanya tape ketan dan madu mongso di buat beberapa hari sebelum lebaran, dan mendut dibuat saat malam takbiran. Mendut itu makanan yang di buat dari tepung ketan dan di isi oleh parutan kelapa yang sudah diberi gula merah lalu di bungkus daun pisang.

Nah, aku suka sekali bantu membungkusnya. Sambil ngobrol sama bude-bude, bulek-bulek juga sepupuku. Tapi yang pasti, aku lebih suka menghabiskannya emoticon. Ada yang berbeda pada lebaran kali ini. Karena sebelum lebaran orang-orang desa tau kalau mbah kakungku panen semangka, mereka minta di hidangkan semangka. Walhasil, aku dan kakakku yang bertugas memotong semangkanya. Tetap menu basah juga kan??? yah…apapun menunya, minumnya tetep air sumur kok emoticon.

    Next posts »»