cerita2...December 26, 2007 6:43 am
Idul adha baru seminggu berlalu, dan tidak terasa kita sudah memasuki minggu terakhir bulan desember atau minggu terakhir sebelum tutup tahun. Pastinya banyak hal yang sudah kita lalui. Nggak terasa waktu cepet berlalu. Masih segar dalam ingatan kejadian-kejadian saat idul adha tahun-tahun sebelumnya. Dan ini membuat aku banyak bersyukur karena masih bisa melewati satu idul adha lagi.
 
Saat umurku belum menginjak 5 tahun, orang tuaku pindah ke Jakarta. Mengontrak di daerah pejaten timur, pasar minggu. Rumah kontrakanku waktu itu dekat dengan sebuah madrasah, namanya Pesantren As-Syifa. Aku mulai masuk As-syifa ketika sudah masuk SD. Seingat aku, mama juga mengajar di As-syifa sehingga aku jadi sangat dekat dengan para pengajar [ustadz] yang kebanyakan masih bujangan.
 
Nah, waktu idul adha sudah pasti As-syifa ramai banget. Setelah sholat id di lapangan yang nggak jauh dari rumah, semua warga sekitar yang tinggal dekat as-syifa berkumpul untuk membantu pemotongan hewan kurban. Bahkan santri As-syifa berdatangan, ikut-ikutan sibuk [maksudnya, sibuk sendiri he..]. Selesai memotong kurban, kita makan-makan dengan ustadz di rumahku atau di rumah ketua yayasan as-syifa, Pak zamzam [ayah dari sahabatku]. Lalu, aku sekeluarga pindah ke rumah sendiri. Tapi jaraknya nggak jauh dari As-syifa sehingga setiap idul adha, aku masih bisa melihat pemotongan kurban di sana.
 
Kelas 5 SD, papa ditugaskan menjadi konsultan di Dompu, NTB. Mama, kak nana, aku dan lia masih di Jakarta. Kontaknya sih cuma 1 tahun, tapi kalau membawa keluarga menjadi 3,5 tahun. Sekitar 2 bulan di Dompu, papa merayu kami untuk ikut ke sana dengan iming-imingan naik pesawat. Cuma mama yang nggak tertarik mendengar tawaran papa, jadi tapi kita semua membantu papa untuk merayu mama. Akhirnya mama nyerah dan kami semua nyusul papa. Jadi, kita merasakan lingkungan baru, rumah baru, sekolah baru, dan otomatis suasana idul adha yang baru.
 
Menurutku, idul adha disana lebih rame dari pada idul fitri. Semua orang bersemangat untuk ikut takbiran dan silaturahmi saat idul adha. Kita semua holat id di lapangan depan kantor bupati. Berangkat dari rumah bersama beberapa karyawan papa. Habis sholat, potong kambing di kantor lalu makan-makan di rumah. Hampir seluruh karyawan papa datang baik untuk membantu potong kambing atau makan-makan. Makanannya pun nggak cuma daging kambing aja, tapi ada udang, rajungan dan ikan. Maklumlah, segala jenis ikan di Dompu sangat murah. Jadi kebayang dong gimana ramenya.
 
Lulus SD, aku merayakan idul adha di Pondok. Pertama kali ikut sholat id di pondok, sedih banget nggak bisa bareng keluarga. Papa dan mama pun nggak bisa datang jenguk aku dan kakak karena sedang menunaikan ibadah haji. Malam takbiran, seluruh santri takbiran keliling pondok dan kumpul di masjid. Setelah takbiran sebentar di masjid, lalu tiap asrama dibagi untuk takbir bergiliran. Paling nggak enak dapat giliran tengah malam. Baru tidur sebentar, sudah harus bangun untuk takbiran. Walhasil, di masjid bukannya takbiran tapi meneruskan tidur hehe..
 
Paginya, kita cepat-cepat bangun untuk mandi, bersih-bersih kamar atau sekitar asrama dan juga siap-siap sholat id. Suasananya rame banget karna sholat id bukan hanya untuk santri, tapi dibuka untuk umum. Setelah sholat, kita bisa melihat pemotongan puluhan hewan kurban yang dilakukan ustadz. Sedangkan Ustadzah dan kelas 6 yang ditugaskan untuk menguliti, memotong-motong, menimbang dan membagikan daging. Ada juga yang kebagian membersihkan jeroan hewan kurban di sungai dekat pondok.
 
Selama 6 tahun mondok, kelas 6 adalah idul adha yang paling berkesan. Yah, aku dan temen-temen seangkatanlah yang membantu proses pemotongan hewan kurban. Aku kebagian tugas untuk memotong daging yang sudah dikuliti [untung nggak disuruh megangin hewan yang mau di sembeleh hiy…]. Darah yang masih banyak di daging membuat aku nggak kuat lama-lama memotongnya. Aku pindah ke bagian penimbangan [enakkan???curang sih he..].
 
Siang, acara pemotongan di hentikan. Karena masih ada beberapa hewan yang belum di sembelih, maka dilanjutkan keesokan harinya. Sorenya, aku kekamar teman. Kaget juga ngeliat dia lagi nyate apalagi nyate dengan cara ajaib. Gimana nggak ajaib, lah itu sate dibakar di atas setrikaan [eits..strika areng lah..]. Lagi pula, nggak tau gimana cara dia bisa menyelundupkan daging. Tapi, aku ikutan makan juga sih, kapan lagi bisa nyate bareng temen-temen [jangan di tiru nih..].
 
Lulus pondok, aku pindah ke malang. Aku merayakan idul adha lagi bareng keluarga. Dua tahun lalu, aku cari hewan kurban sampai di Batu. Dapat 2 kambing. Karena nggak punya kendaraan lain, maka di masukkan bagasi mobil. Lucunya ketika di jalan, kambingnya berdiri sampai tutup bagasi kebuka. Untungnya nggak sampai kabur tuh kambing. Walau, sempat jadi tontonan orang-orang dipinggir jalan.
 
Paling berkesan adalah idul adha tahun lalu yang jatuh pada 31 Desember. Aku harus merayakan idul adha sendiri. Papa, mama dan zahwa ke Dompu sedangkan lia masuk pondok dan kak nana di jakarta. Walhasil, aku di malang ditemani sahabatku, Whidha. Papa ninggalin uang untuk beli kambing. Karena aku nggak berpengalaman beli, aku nitip ke tetangga.
 
Sehabis sholat id, tetanggaku manggil aku untuk melihat pemotongan kurban tapi aku memilih nemenin whidha yang kebetulan lagi kurang sehat. Akhirnya, aku cuma nonton TV aja di rumah. Bosen sih, tapi mau gimana lagi. Nggak taunya aku dan whidha tertidur di depan TV dan bangun-bangun, sudah ada sate dan gule tersedia di meja makan lengkap dengan nasi dan sambal. Wah, tetanggaku memang baik banget deh. Kita tinggal makan aja.
 
Banyak hal yang terjadi selama idul adha yang harus aku syukuri. Dari idul adhaku dulu sampai yang sekarang. Idul adha di berbagai tempat yang berbeda menjadikan aku kaya pengalaman [sok tua nih hehe…]. Idul adha juga mengajarkan aku untuk berbagi, dengan siapa saja. Apa lagi saat idul adha di pondok. Kadang, aku sangat merindukan suasana idul adha di pondok. Tapi aku nggak mungkin balik ke masa lalu. Harapanku, semoga suatu saat, aku bisa membeli kurban dengan hasil jerih payahku sendiri. Amien…
coretankuDecember 17, 2007 1:52 am
Hady Mirza..ha…ha…    
Ini adalah teriakan kakakku hanya beberapa detik sebelum Ata sang presenter imut mengumumkan pemenang asian idol. Lagi asik-asiknya nonton ketegangan para peserta idol menunggu pengumuman, kakak yang sedang tiduran sama aku, langsung bangun dan teriak ‘Hady Mirza…’. Belum selesai rasa kagetku, semakin di perparah oleh teriakan Ata. ‘And the first Asian Idol goes to, Hady Mirza, Singapore’. What..???Kaget, melongo nggak percaya. Mungkin tampangku saat itu mirip Hady yang juga nggak percaya kalau sudah menjadi ‘the first asian idol’ [meksoo…]. Papa yang kebetulan masih ikut nonton, langsung bangun dan menuju kamar sambil bergumam ‘nggak masuk akal’. Sedangkan komentar mama lain lagi, ‘zzZZZZzzzz…..’ [eh..udah tidur…].
 
Kok bisa yah Hady yang menang??? Padahal kualitas suara peserta lain ada yang jauh di atas Hady. Makanya, tidak heran banyak orang bahkan juri memprediksikan Mike, Jaclyn atau Mau yang akan keluar sebagai pemenang [tapi..kualitas suara Hady jauuuuhhh di atas aku kok hehehe…]. Pasti banyak orang yang sama-sama nggak percaya kenapa Hady yang keluar sebagai jawara. Mengingat, penduduk singapura yang jauh lebih sedikit ketimbang negara-negara asal idol lainnya. Setelah pengumuman, Hady menyanyikan kembali lagu ‘Berserah’ yang dia bawakan malam sebelumnya. ‘Dia berserah banget sih, makanya menang’ candaku ke kakak. Tapi menurut aku, saat menyanyikan lagu ‘berserah’, dia sangat menghayati jadi kelihatan bagus. Begitu acara selesai, aku langsung menuju kamar sambil menduga besok pasti rame.
 
Paginya, ternyata dugaanku nggak meleset. Koran, infotainment dan blog banyak yang memberitakan kemenangan kontroverisal ini. Di salah satu blog yang aku baca, beropini tentang sistem pemilihannya. Karena diharuskan memilih dua negara berbeda, negara pertama yang di pilih pasti negara mereka sendiri, dan yang kedua adalah negara lainnya. Pasti para pendukung nggak mau penyanyi andalan dari negara masing-masing kalah dengan pesaing terkuatnya, jadi para pengirim sms memilih penyanyi yang nggak diunggulkan. Misalnya aja pendukung Indonesia pasti nggak akan memilih Philipina atau Malaysia yang menjadi pesaing terberat dari Mike Mohede [eh..yang paling berat kan mike yah..he..], pemilih dari negara lain juga melakukan hal yang sama.
 
Selain itu, banyak juga yang komentar miring tentang kemenangan Hady. Ada yang bilang kalau cowok yang bernama asli Muhammad Mirzahady Amir ini memenangkan kontes karena menang tampang aja, sehingga memikat hati banyak wanita. Bahkan, mengait-ngaitkan kemenangan ini dengan Indosat dan Telkomsel. Yah, siapa sih yang nggak tau kalau Indsoat dan Telkomsel sekarang sudah menjadi milik SingTel yang notabene adalah perusahaan singapura. Banyak juga yang menduga, pasti ada apa-apanya nih. Wah, kalau hal ini benar, siapa tuh yang pantas di persalahkan??? [aduh Bu…makanya jangan asal main jual…rugi deh…].
 
Mungkin juga karena Singapura adalah sebuah negara yang sangat maju dalam segala hal termasuk dalam bidang ekonomi. Pendapatan penduduknya menjadi salah satu yang teratas di kawasan Asia. Nggak heran meski penduduk mereka sedikit tapi pulsa SMS mereka yang paling banyak. Sempat juga bertanya dalam hati, sama nggak yah tarif sms mereka dengan kita yang Rp 2000 per sms. Bukan apa-apa nih, tarif sms kita yang cuma 300 perak aja sudah termasuk yang paling mahal dari negara lain, apalagi kalau sekali sms 2000 perak. Itu kan berkali-kali-kali-kali lipat [banyak kali ni…]. 
 
Biar bagaimanapun, Asian Idol telah terpilih. Ini membuat aku tersadar untuk tidak memandang sesuatu sebelah mata. Ini terbukti dengan apa yang terjadi dengan Hady. Dia bukan seorang yang di unggulkan bahkan di jadikan pilihan kedua tapi bisa menang dengan suara yang sangat meyakinkan. Semua orang yang memandang sebelah mata padanya, sontak membuka mata lebar-lebar. Selamat dan sukses deh buat Hady Mirza, dan buat Mike, kamu sudah memberikan Indonesia yang terbaik [tapi jangan nyanyi ‘I believe I can fly’ n ‘Mengejar matahari’ mulu yah, bosen dengernya..]. Selamat juga buat Indonesia yang sudah bisamenyelenggarakan acara ini dengan sukses.
info2December 15, 2007 3:50 am
Siapa sih yang nggak tau Gontor??. Pondok ini sudah mencetak ribuan alumni yang tersebar di seluruh Indonesia. Banyak alumni yang sukses dan menjadi tokoh masyarakat, tokoh agama, budayawan, pangusaha, bahkan artis [eh..denger-denger vokais ‘kangen band‘ jebolan gontor loh…hihi..bener nggak yah??]. Bukan hanya alumni, Pondok Gontor sendiri sudah berdiri di banyak kota. Ini karena cita-cita  Gontor adalah mendirikan seribu Gontor. Dua hari yang lalu, aku mau menulis profile Gontor untuk bahan skripsi. Dari beberapa buku yang aku punya, lalu aku rangkum, dan inilah sedikit sejarah Gontor.
 
Pondok Tegalsari
Pada abad ke-18, hiduplah seorang Kyai besar bernama Kyai Ageng Hasan Bashari atau Besari di desa Tegalsari. Tegalsari adalah sebuah desa terpencil lebih kurang 10km ke selatan Ponorogo. Di sinilah Kyai Ageng mendirikan sebuah pondok yang di kenal dengan Pondok Tegalsari. Dalam sejarah, Pondok ini pernah mengalami masa keemasan dan menyumbangkan jasa yang besar dalam pembangunan bangsa indonesia. Ribuan santri datang menuntut ilmu di pondok ini termasuk di antaranya adalah Paku Buana II atau Sunan Kumbul, Raden Ngabehi Ronggowarsito dan tokoh pergerakan nasional H.O.S Cokroaminoto.
 
Setelah Kyai Ageng Hasan Bashari wafat, beliau digantikan oleh putra ketujuh yaitu Kyai Hasan Yahya. Demikianlah Pesantren Tegalsari hidup dan berkembang dari generasi ke generasi. Namun pada pertengahan abad ke-19 atau pada generasi keempat keluarga Kyai Bashari, Pesantren Tegalsari mulai surut. Saat kepemimpinan Kyai Khalifah, ada seorang santri yang sangat menonjol dalam segala bidang. Namanya sulaiman Jamaluddin. Karena kedekatannya dengan Kyai maka Sulaiman diangkat menjadi mantu bahkan dipercaya untuk mendirikan pesantren sendiri di Desa Gontor.
 
Pondok Gontor lama.
Gontor adalah sebuah desa yang terletak kurang lebih 3km sebelah timur Tegalsari. Pada saat itu Gontor masih merupakan hutan belantara yang jarang didatangi orang. Hutan ini dekenal sebagai tempat persembunyian perampok, penjahat, penyamun dan pemabuk. Jelasnya, tempat ini adalah tempat kotor dan sumber dari segala kotoran. Dalam bahasa jawa, tempat yang kotor disebut nggon kotor, yang disingkat menjadi "gon-tor". Di desa inilah Kyai Sulaiman Jamaluddin diberi amanat untuk merintis pondok pesantren seperti Tegalsari dengan bekal 40 santri. Pondok inilah yang menjadi cikal bakal dari Pondok Modern Gontor saat ini.
 
Pondok yang didirikan Kyai Sulaiman berkembang pesat, khususnya ketika dipimpin oleh putra beliau, Kyai Archam Anom Besari. Setelah Kyai Archam wafat, pondok dilanjutkan oleh putranya yang bernama Kyai Santoso Anom Besari. Kyai Santoso Anom Besari adalah generasi ketiga dan pada masa inilah Gontor mulai surut. Kegiatan pendidikan dan pengajaran di pesantren mulai memudar. Kemunduran ini disebabkan kurangnya perhatian terhadap kaderisasi.
 
Setelah Kyai Santoso wafat, Pondok Gontor benar-benar mati.Saudara-saudara beliau tidak ada yang sanggup untuk mempertahankan pondok. Yang tinggal hanyalah Nyai Santoso beserta ketujuh putra putrinya dengan peninggalan sebuah rumah sederhana dan masjid tua. Melihat kejadian ini, Nyai Santoso tidak mau tinggal diam. Karena itu, beliau mengirimkan tiga putranya ke beberapa pesantren dan lembaga pendidikan untuk memperdalam agama. Mereka adalah Ahmad Sahal, Zainuddin Fanani dan Imam Zarkasyi. 
 
Pondok gontor baru.
Ketiga putra Nyai Santoso yang sering disebut "trimurti" itulah yang menghidupkan kembali Pondok Gontor. Pembukaan kembali Pondok Gontor itu secara resmi dideklarasikan pada Senin Kliwon, 20 September 1926 bertepatan dengan 12 Rabi’ul Awwal 1345 dalam peringatan Maulid Nabi di hadapan masyarakat.
 
1. Pembukaan tarbiatul athfal, 1926.
Langkah pertama untuk menghidupkan kembali pondok gontor adalah dengan membuka Tarbiatul Athfal [TA], suatu program pendidikan tingkat dasar. Materi, sarana dan prasarana pendidikan sangat sederhana. Tetapi, berkat kesungguhan pengasuh gontor baru, usaha ini membangkitkan semangat belajar masyarakat Desa Gontor. Minat yang sangat tinggi ini diantisipasi dengan mendirikan cabang-cabang TA di desa-desa sekitar Gontor yang ditangani oleh kader yang telah disiapkan.
 
2. Pembukaan Sullamul Muta’allimin, 1932.
Setelah enam tahun TA berdiri, mulailah dipikirkan upaya untuk pengembangan TA dengan membuka program lanjutan yang di beri nama "Sullamul Muta’allimin" [SA], tahun 1932. Pada tingkat ini, para santri diajari secara lebih mendalam dan luas ilmu-ilmu agama, pidato, diskusi, juga diberi sedikit bekal untuk menjadi guru. Disamping itu, mereka juga diajari ketrampilan, kesenian, olahraga, kepanduan dan lainnya.
 
3. Pembukaan Kulliyatul Mu’allimmin Al-Islamiyyah, 1936.
Kehadiran TA dan SA telah menggugah minat belajar masyarakat. Perkembangan tersebut cukup menggembirakan hati dan sangat disyukuri oleh Pengasuh Pesanten. Kesyukuran yang ditandai dengan acara 10 tahun pondok, menjadi semakin lengkap dengan pembukaan program pendidikan baru tingkat menengah pertama dan menengah atas yang dinamakan Kulliyatul Mu’allimin Al-Islamiyyah [KMI] atau sekolah guru islam, yang menandai kebangkitan sistem pendidikan modern di lingkungan pesantren.
 
cerita2...December 13, 2007 8:03 am
Namanya juga musim hujan, jadi hujan turun nggak lihat waktu. Mau pagi, siang, sore atau malam. Biarpun aku suka sekali dengan yang namanya hujan-hujanan atau kadang suka pura-pura kehujanan, [jujur aja, aku paling males bawa payung], ketika keluar rumah dan kebetulan aku baru ganti baju trus kehujanan, yah sebel juga [tapi banyakan senengnya…emoticon]. Makanya pepatah ’sedia payung sebelum hujan’ tuh bener banget. Tapi kalau perginya naik motor yah…sedia mantel dung, kan lucu kalau naik motor pakai payung [ada yang mau coba??..].
 
Kira-kira dua hari yang lalu, whidha yang setiap hari memang datang ke rumah, akan pulang. Waktu itu, langit mendung. Dia tetap nekat mau pulang, padahal aku sudah melarang. Lalu, aku suruh saja bawa payungku. Tapi dia menolak, katanya nggak enak pinjem terus. Baru beberapa meter meninggalkan rumah, hujan mulai turun. Aku langsung keluar dan melihat whidha yang terus jalan. Aku coba panggil dia. Bukannya balik ke rumah, dia malah lari. Wah..berarti dia nggak denger panggilanku. Terlintas ide dalam otakku, untuk ke musholah samping rumah, pinjam mic trus manggil dia. Tapi, kayanya ide itu terlalu gila [yaiyalah….]. 
 
Akhirnya, aku masuk ke kamar. Nggak tenang juga mikir sahabatku yang satu ini. ‘bertrduh dmn nek??lagian d srh bw payung ja susah bgt…’ sms ku ke dia. Nggak lama, ada sms masuk ke hp ku. ‘kekekek…d dpn mushola ke 2 biz rmh lo,,lo mu bwain gw payung?duuh..makasiy bgt lo yaa :p’, ternyata dia balas smsku. Ada yang aneh juga sih dengan balasannya. Lah, siapa juga yang nawarin bantuan untuk bawain dia payung???emoticon. Tapi, kayaknya dia sangat membutuhkan bantuanku, jadi aku ambil payung dan nyusul dia.  
 
Dari jauh, aku lihat dia cengar-cengir. Lalu mendekati aku. Waktu itu, hujan memang sudah tidak terlalu deras. Setelah mengambil payung yang aku bawa, dia pulang begitu juga aku. nggak lama, hujan turun lagi dan lebih deras. Untung, dia tadi sudah bawa payung. Lain kali jangan sungkan yah minjem payungku. Gratis ko…hehehe…   
cerita2...December 10, 2007 6:27 am

lia Panen apelnya sudah lumayan lama, tapi masih asik saja mengingat kejadian itu. Seru banget. Waktu itu cuma aku dan lia yang bisa ke pujon untuk panen apel. Nggak nyangka juga sih bisa panen apel. Habis, biasanya sudah niat panen ternyata sampai sana tidak ada satupun apel yang bisa di petik bahkan di pegang. aku niy

Ini bukan kebun apelku. Tapi punya pak Parni Hadi. Kebetulan omku yang ditugaskan beliau untuk mengelolanya. Letaknya di dekat pasar Mantung, pujon. Saat ini, kebun apel akan di kembangkan menjadi PUSAT REHABILITASI TANAMAN APEL MALANG. Disana akan di buat tempat pelatihan, asrama dan fasilitas outbound. Selain di tamani apel, di sana juga di tanami jeruk, kopi dan lainnya.

 

cerita2... 5:48 am

Naning ini adalah anak tetanggaku. Sekarang sudah kelas 3 SMP. Dua minggu yang lalu, dia minta aku untuk memberi les beberapa mata pelajaran yang akan di ujikan saat ujian akhir sekolah. Katanya sih, cuma 4 mata pelajaran. Aku langsung menyetujuinya, mengingat, saat malam aku tidak punya kegiatan. Selasa, rabu, kamis dan jum’at malam adalah waktu yang kita sepakati untuk les.

Hari pertama les, dia minta di ajarin ekonomi [kayanya ekonomi…lupa sih hehe..]. Kebetulan dia ada PR. Setelah aku baca soalnya, ternyata di suruh membuat poligon dan mencari median. Aku langsung inget mata kuliah statistik. Setelah aku jelaskan, aku suruh dia mengerjakan sendiri. Nggak lama, aku koreksi pekerjaannya. Lalu aku kasih soal lagi yang serupa biar dia benar-benar paham.  

Besoknya, pelajaran matimatika. Seperti hari sebelumnya, aku jelaskan sedikit lalu kasih soal-soal latihan. Kamis malam, bahasa inggris. Ternyata, kosakata bahasa inggris dia masih kurang. Makanya dia kesulitan untuk menjawab pertanyaan dari soal-soal latihan di buku. Akhirnya, aku beri dia tugas untuk menghapal kosakata yang sederhana dan menuliskannya dengan benar. Biarpun dia agak kesulitan, tapi lama-lama bisa juga.

Jum’at malam, ternyata biologi. Waduh, inget nggak yah. Maklum lah, sudah lama banget nggak bersentuhan dengan pelajaran yang satu ini. Apalagi dia dapat soal latihan dari sekolah yang harus di selesaikan. Mana dia tidak punya buku paket dan catatan dari gurunya pun cuma sedikit. Aku coba cari buku-buku IPA adikku. Ternyata bukunya juga sudah di berikan ke tetangga. Yah..hasilnya malam itu aku minta maaf karena nggak semua soal bisa di jawab.  

Waktu ke rumah whidha, kebetulan dia masih punya beberapa buku biologi. Aku pinjam aja, lumayan buat baca-baca. Nggak nyangka ternyata sekarang aku harus belajar biologi lagi. Yah, dari pada baca novel terus. Betul tidak???