cerita2...November 22, 2007 5:29 am
Saking semangatnya, papa yang sudah membaca artikel-artikel tentang bekatul, menceritakannya berulang kali buat kita sekeluarga. Apalagi, pamanku yang di jakarta sudah mencobanya. Mama, kak nana, aku, lia dan zahwa tanpa bosan tetap mendengarkan dengan baik. Cerita di rumah, ketika makan, nonton TV bahkan di sepanjang jalan saat mudik ke ngawi. Lama-lama, kita jadi ikut tertarik untunk mencoba makan bekatul. Apalagi ternyata mama sudah merasakan makan bekatul ketika masih kecil. Maklumlah, waktu itu zaman masih susah sehingga beras merupakan makanan mewah.
Setelah lebaran, papa ngajak mencari bekatul. Tapi sayangnya, suasana lebaran menjadikan tempat-tempat penggilingan padi masih tutup. Bahkan ketika bersilaturahmi ke saudara yang mempunyai usaha penggilingan padi, tetap saja tidak mendapatkan bekatul baru. Tapi usaha tetap di lanjutkan, mencari dan terus mencari hehehe..[berlebihan..]. Suatu hari, ketika kita pulang dari belanja kebutuhan lia dan zahwa di sragen, kita menemukan tempat penggilingan padi yang sudah buka.
Tanpa pikir panjang, kita turun untuk melihat apakah ada bekatul baru dan membelinya. Ibu pemilik penggilingan padi awalnya heran kenapa ada orang yang mencari bekatul dalam jumlah sedikit [biasanya, orang membeli berpuluh-puluh kilo untuk…makanan ternak broo…]. Setelah kita terangkan bahwa ini untuk konsumsi pribadi, ibunya menyarankan untuk mengayak bekatulnya terlebih dahulu. Atau membeli padi baru dan menumbuknya sendiri untuk mendapatkan bekatul yang lebih baik [aduh bu…hari gini beli lesung di mana???].
Sesampainya di malang, tanpa membuang-buang waktu, kita mengayak bekatulnya. Dari 3kg yang kita beli, hanya tinggal setengahnya. Bekatul halus hasil ayakan, langsung di sangrai sama mama biar awet. Sedangkan sisanya, di kasihkan tetangga yang kebetulan memelihara ayam [mmm…makanan ternak betulan deh..]. Sorenya, dengan semangat 45, papa mengaduk 8 sendok makan bekatul [dengan asumsi 1 orang memakan 2 sendok, sedangkan lia dan zahwa bebas dari pesta makan bekatul karna sudah di pondok] dengan air panas, lalu di atasnya diberi irisan gula merah.
Mama memulainya dengan memakan setengah sendok, begitu juga papa lalu kak nana. ‘Kok, rasanya begini yah??’ papa memberi komentar. ‘Rasanya aneh!!’ sambung kak nana. ‘Ya rasanya memang begini, kalau enak nggak mungkin di kasihkan ayam tau….’ sambung mama. Waduh, semangatku langsung menurun. Tinggal semangat 22,5 dari yang awalnya yang semangat 45. Aku langsung mau melarikan diri. Tapi setelah dipaksa, dibilang tidak setia kawan dengan keluarga [maksute??], aku suapkan sepucuk sendok bekatul. Langsung telan lalu ambil langkah seribu.
Mmm…sebenarnya bukan rasanya yang tidak enak, tapi baunya. Baunya seperti tepung yang sudah kelamaan disimpan. Apek. Setelah pesta makan bekatul yang gagal, aku, mama dan kak nana belum mencoba makan bekatul lagi. Papa saja yang masih rajin dengan mencoba berbagai macam cara biar bekatul terasa enak. Nanti kalau sudah dapat resep enak makan bekatul, aku coba lagi deh. Semangat yah pa…

ga boleh kabur dunk, kan kasian bokap yang dah berkali-kali kampanye ;D klo lu mau makan, gw yakin lu bakal lebih tahan banting. buktinya ayam yg makan bekatul ga pernah sakit meski suka maen di tempat kotor hehehe…(tapi emang bener byk khasiat bekatul cz gw dah sering baca)
Comment by topha — December 4, 2007 @ 5:04 am
Wah smangat ya makanny…. ^_^
Comment by Nida — December 5, 2007 @ 11:01 pm
sandwich gorengnya ntar dicampur bekatul yah.. namai ‘SANGGORBEK’. cukup komersil kan..?
Comment by the ikal — December 8, 2007 @ 1:27 pm
huwaaaa…. bekatul?
ehm…. keknya klo masih ada cara sehat dengan mengkonsumsi makanan yg lebih enak dan lezat, ga bakal milih bekatul dech…
Comment by dewi — December 12, 2007 @ 1:59 pm
bekatul adalah makanan sehat, untuk ngakalin supaya dimakan lebih enak bisa dicampur dengan susu non fot atau energen atau juga bisa dicampur dengan berbagai macam jus kesukaan masing-masing.
karena bekatul tidak berpengaruh dengan makanan lain.
btw nida bisa membeli bekatul yang sudah instan, contohnya latifit produksi saya yg sudah terdaftar di depkes.
fur more information u can send me email.
thx
Comment by waideep — January 27, 2008 @ 11:49 am
hi slm kenal yuuuk
nggragas panganan opo bekatul
Comment by anak nakal — February 2, 2008 @ 10:54 am
salah masak kali,tuh bekatul,biasanya di jadiin emplex`s kaya,naga sari tapi warnanya cokelat,
Comment by The idioy one — February 7, 2008 @ 7:51 pm
aku juga makan bekatul, kebetulan juga aku jual bekatul beras putih dan merah dari bekatul dr liem…kalo ada yang mau boleh hubungi aku di 021 32496289 atau email di dao1977@gmail.com
Comment by dian — June 1, 2008 @ 4:10 am