Buku ini adalah panduan empatik mengarang fiksi atau menulis.Buku ini mengupas seluk beluk kepenulisan. Yang unik dari buku ini adalah menyajikan berbagai nasehat praktis menulis maupun saran-saran yang dapat memberi semangat untuk menulis dalam bentuk surat-menyurat fiktif antara penulis dan editor. Dengan buku ini, diharapkan membuat emosi kita dalam menulis menjadi berwarna, kaya raya, dan siap untuk meluncurkan ide-ide yang tidak hanya satu.

Kiat-kiat yang diberikan dalam buku ini juga layak disimak. Dari bagaimana cara mencari ide cerita dan berimajinasi, cara mengawali dan mengakhiri cerita, sampai mengirimkan naskah yang sudah selesai di buat ke majalah atau penerbit. Semua itu di bahas dalam buku ini dengan bahasa yang mudah di pahami.

Yang paling aku suka dalam buku ini adalah ketika penulis menerangkan tentang penggunaan kata sifat dan kata keterangan. Karena menurutnya, kata sifat layaknya api. Kecil jadi teman, besar jadi lawan. Jadi seoarang penulis tidak boleh berlebihan dalam memberikan kata sifat, biar kisah yang sedang di buatnya tidak kehilangan nyawa. Walau pun, ada satu hal juga yang tidak aku setujui yaitu mengesampingkan pekerjaan rumah tangga karena dedikasi pada panggilan hidup sebagai penulis.

Menurut penulis, kapan pun ide itu muncul, tulis saja, tidak perduli apa yang sedang kita lakukan. Menurut aku, ada cara lain yang lebih baik. Kita buat jadwal menulis setaip harinya. Misalkan menulis setiap pagi. Sedangkan jika mendadak mempunyai ide tulisan, kita tulis pada kertas atau buku yang sudah kita sediakan sehingga pekerjaan lain tidak terbengkalai.

Penulis, tentu saja tidak perlu di ragukan lagi dalam dunia kepenulisan. Selain menjadi pengajar yang sangat berpengalaman, Dia sudah menghasilkan tiga novel serta tiga kumpulan cerpen dan buku yang memberikan inspirasi bagi penulis. Dia juga seorang editor untuk dua antologi. Bagi kamu-kamu yang mau belajar menulis, buku karya Carmel Bird yang di terbitkan Kaifa ini layak di baca. Atau…mau pinjem juga boleh kok…