Karena telah bosan sebagai "pensiunan nabi" di surgaloka, maka para nabi mengajukan petisi kepada Tuhan untuk turba (turun bawah) ke bumi. Sebagai penandatangan pertama, Muhammad dari madinah, saudi arabia yang bi bumi dikenal sebagai Muhammad SAW, dipanggil menghadap Tuhan. Tuhan setelah membaca petisi tersebut "geleng-geleng kepala" tidak habis pikir pada ketidak puasan di benak manusia. Setelah berdialog dengan Nabi Muhammad tentang maksudnya mengadakan riset di bumi yang dikarenakan semakin sedikit umat Muhammad yang masuk surga, maka Tuhan pun mengabulkan petisi tersebut. Sebelumnya Tuhan berpesan supaya Nabi muhammad menghadap Sulaiman untuk membuat surat jalan.

Sebelum berangkat, terjadi kesibukan luar biasa di surga. Seperti serah terima jabatan Ketua kelompok Grup Muslimin dimana Abubakar tercantum sebagai pihak penerima. Ketika waktu pemberangkatan tiba, seluruh penghuni surga mengantar ke lapangan terbang. Nabi Adam selaku sesepuh, di daulat untuk memberikan sambutan. Berangkatlah Nabi Muhammad dengan mengendarai buraq, yang dulu digunakan untuk mi’raj. Dalam perjalanan tersebut, Nabi Muhammad didampingi oleh malaikat Jibril yang sudah tua, terengah-engah mengikuti dari belakang.Ditengah perjalanan, buraq bertabrakan dengan sputnik buatan rusia yang tidak memiliki rem, sehingga baik buraq maupun sputnik hancur berkeping-keping.

Untungnya, Nabi Muhammad dan malaikat Jibril tersangkut di awan yang empuk bagaikan kapas. Di atas awan, Nabi mengira berada diatas neraka. Namun Jibril menjelaskan bahwa mereka berada di bagian bumi yang paling durhaka. Jakarta, ibukota sebuah negeri dengan 100juta rakyat yang malas dan bodoh. Lalu, Muhammad dan Jibril mengubah diri mereka menjadi ‘elang’ yang terbang ke segala penjuru Jakarta, menyaksikan segala bentuk ‘kebejatan’ yang terjadi. Mulai dari pengeroyokan terhadap seorang copet, juga adengan mesum  yang makin merajalela di Stasiun Senen.

Cerpen ini juga menceritakan kejadian-kejadian politik dan sosial di Indonesia menjelang terjadinya pemberontakan Gestapu/PKI dengan pemegang peran utama Soekarno, Subandrio [Perdana Mentri Togog], Dubes RRC untuk Indonesia, dan lainnya. Cerita ini diakhiri dengan bagaimana kemelut Indonesia yang terjadi pada waktu itu dan tidak bisa di selesaikan dengan baik oleh Soekarno. Mungkin inilah, alasan pembuatan cepen "Langit Makin Mendung".