Setelah puasa 1 bulan, tentu saja lebaran adalah saat yang di tunggu-tunggu. Waktu masih kecil, lebaran itu berarti baju baru dan salam tempel emoticon. Karena sekarang aku sudah besar [cieee….], jadi nggak mungkin lagi mengharapkan baju baru dan salam tempel [tapi kalau ada ya nggak nolak hehehe…]. Kalau sekarang, aku suka sekali bantu menyiapkan menu lebaran. Baik itu menu cemilan atau menu makanan.

Ada perbedaan besar dalam menyiapkan menu lebaran di ngawi dan jember. Di jember, mbah putriku menyiapkan cemilan yang renyah-renyah. Seperti kripik, kerupuk, atau rempeyek. Mbahku sangat pintar membuatnya. Jangan tanya rasanya, karena kalau sudah mencoba, ditanggung pasti tidak mau berhenti. Pokoknya, rasanya sangat pas di lidah [kayak promosi aja…].

Sedangkan di ngawi, bulekku menyiapkan menu-menu basah. Bukan kripik, krupuk atau rempeyek yang sudah di siram air, tapi menunya berupa tape ketan, madu mongso atau mendut. Biasanya tape ketan dan madu mongso di buat beberapa hari sebelum lebaran, dan mendut dibuat saat malam takbiran. Mendut itu makanan yang di buat dari tepung ketan dan di isi oleh parutan kelapa yang sudah diberi gula merah lalu di bungkus daun pisang.

Nah, aku suka sekali bantu membungkusnya. Sambil ngobrol sama bude-bude, bulek-bulek juga sepupuku. Tapi yang pasti, aku lebih suka menghabiskannya emoticon. Ada yang berbeda pada lebaran kali ini. Karena sebelum lebaran orang-orang desa tau kalau mbah kakungku panen semangka, mereka minta di hidangkan semangka. Walhasil, aku dan kakakku yang bertugas memotong semangkanya. Tetap menu basah juga kan??? yah…apapun menunya, minumnya tetep air sumur kok emoticon.