coretankuOctober 31, 2007 8:39 am

Begitulah dia biasa dipanggil. Dia adalah seorang penjual bakso yang menurutku paling enak di daerah tempat tinggalku. Tingginya sekitar 165 cm, tubuhnya kurus, mempunyai kumis. Menurutku, dia orang yang baik dan ramah. Aku sudah mengenalnya sekitar 4-5 tahun. Awalnya, aku tau dia dari papa. Papaku dengan gencar mempromosikan bakso yang katanya enak banget. Hal ini tentu saja membuat aku dan mama penasaran, seenak apa bakso yang dikatakan papa padahal kami tau papa bukanlah pencinta makanan yang satu ini.

Rasa penasaran kami tidak langsung bisa terpenuhi, karena dia hanya lewat depan rumah saat tengah malam [makanya aku kasih julukan "bakso setan" hehehe…]. Belum lagi kalau baksonya sudah habis, jadi dia tidak mungkin lewat depan rumah. Setelah beberapa kali gagal nunggu, entah itu karena sudah tertidur atau karena yang lain, akhirnya kami berhasil juga mencicipinya. Dia membuat bakso yang beraneka ragam, ada yg isi sumsum, telur kuning, bahkan ati. Dan memang rasa bakso bahkan kuahnya sangat enak.

Sekarang, aku sudah tidak perlu lagi bergadang sampai malam menunggu cak hadi. Karena sebelum berkeliling pada malam hari, cak hadi berjualan dulu di rumahnya. Baksonya mulai buka jam 5 sore, jadi aku bisa ke rumahnya dulu untuk menikmati baksonya yang top abis. Teras rumah kontrakannya yang menjadi tempat makan pelanggan yang datang kerumahnya. Dulu masih sempit dan terlihat sedikit kumuh. Tapi sekarang sudah jauh lebih luas dan bersih.  

Saat berjualan di rumah, dia dibantu oleh anak dan istrinya. Kaget juga waktu pertama kali melihat istrinya, karena istrinya sangat gemuk [kebanyakan makan bakso kali ya???emoticon]. Terakhir kali makan di sana [pertengahan puasa], istrinya sedang dirawat di rumah sakit karena stroke. Walaupun begitu, rasa baksonya tetap tidak berubah. Tetap enak. Selesai makan, hanya satu pertanyaan yang terlontar dari cak hadi "baksonya kurang apa???". Masukan dari pelanggan sangat diharapkannya.

Setiap ada teman atau tamu dari jauh, pasti bakso cak hadi menjadi andalanku. Aku selalu mempromosikan bakso cak hadi. Mereka yang sudah mencoba bakso cak hadi sepakat bahwa baksonya sangat enak. Bagi yang belum mencoba, ada yang tertarik untuk mencoba???? Pasti nggak akan menyesal dech….

cerita2...October 28, 2007 1:10 am

Kuliah lagi…kuliah lagi….Yah, mau gimana lagi, masa mau liburan sepanjang masa. Habis libur lebaran [walau agak terlambat karena aku pakai acara molor liburan], hal pertama yang dilakukan pasti minta maaf secara langsung ke temen-temen, dosen, karyawan kampus, OB, satpam, sampai tukang bakso di kampus. Setelah itu, tukar cerita sama temen-temen.

Selain tukar cerita, back 2 campus kali ini, aku harus mempersiapkan diri menghadapi seminar judul. Bukan hal besar sih, tapi tetep aja buat aku ketar-ketir. Mana tugas belum ada yang aku kerjakan. Salahku sendiri sih, nunda-nunda buat tugas. Jadi sekarang lagi nyicil buat tugas sedangkan seminar judul sudah berlalu kemarin.

Lega juga setelah melalui seminar. Ada sedikit revisi di batasan masalah. Juga di latar belakang yang menurut dosen penguji terlalu panjang. Yang penting judulku di terima dan semoga aku nggak mulai menunda-nunda [lagi…] buat skripsi. Oya, untuk temenku yang belom di terima judulnya, jangan putus asa yah….SEMANGAT!!!!!!  

cerita2... 12:31 am

Setelah puasa 1 bulan, tentu saja lebaran adalah saat yang di tunggu-tunggu. Waktu masih kecil, lebaran itu berarti baju baru dan salam tempel emoticon. Karena sekarang aku sudah besar [cieee….], jadi nggak mungkin lagi mengharapkan baju baru dan salam tempel [tapi kalau ada ya nggak nolak hehehe…]. Kalau sekarang, aku suka sekali bantu menyiapkan menu lebaran. Baik itu menu cemilan atau menu makanan.

Ada perbedaan besar dalam menyiapkan menu lebaran di ngawi dan jember. Di jember, mbah putriku menyiapkan cemilan yang renyah-renyah. Seperti kripik, kerupuk, atau rempeyek. Mbahku sangat pintar membuatnya. Jangan tanya rasanya, karena kalau sudah mencoba, ditanggung pasti tidak mau berhenti. Pokoknya, rasanya sangat pas di lidah [kayak promosi aja…].

Sedangkan di ngawi, bulekku menyiapkan menu-menu basah. Bukan kripik, krupuk atau rempeyek yang sudah di siram air, tapi menunya berupa tape ketan, madu mongso atau mendut. Biasanya tape ketan dan madu mongso di buat beberapa hari sebelum lebaran, dan mendut dibuat saat malam takbiran. Mendut itu makanan yang di buat dari tepung ketan dan di isi oleh parutan kelapa yang sudah diberi gula merah lalu di bungkus daun pisang.

Nah, aku suka sekali bantu membungkusnya. Sambil ngobrol sama bude-bude, bulek-bulek juga sepupuku. Tapi yang pasti, aku lebih suka menghabiskannya emoticon. Ada yang berbeda pada lebaran kali ini. Karena sebelum lebaran orang-orang desa tau kalau mbah kakungku panen semangka, mereka minta di hidangkan semangka. Walhasil, aku dan kakakku yang bertugas memotong semangkanya. Tetap menu basah juga kan??? yah…apapun menunya, minumnya tetep air sumur kok emoticon.

cerita2...October 11, 2007 3:20 pm

Tidak terasa, sudah saatnya mudik nih. Tahun lalu, kami mudik ke Jember. Perjalanan dari malang ke jember cuma sekitar 3 jam saja. Yang aku ingat saat mudik tahun lalu, begitu sampai di jember, kami sekeluarga langsung menuju rumah sakit. Bukan karena salah satu anggota keluarga tertimpa musibah, tapi sepupuku akan melahirkan anak pertamanya. Di rumah sakit, aku, kakak dan adik-adik cuma bisa berdoa semoga persalinannya lancar. Ini keponakan pertama kami dari keluarga papa. Sedangkan papa dan mama sibuk memberi masukan pada sepupuku itu.

Karena tidak kunjung melahirkan juga [yaiyalah….lah wong baru bukaan 2], akhirnya kami menuju rumah mbah untuk beristirahat. Tidak lama, kami mendapat kabar dari mumah sakit kalau sepupu kami sudah melahirkan. Anaknya laki-laki dan di beri nama ammar. Sekarang, ammar sudah tambah gendut dan makannya banyak. Oiya, kalau di jember, kami tidak lupa main ke pantai karena letaknya tidak jauh dari rumah mbah. Pantainya indah, berpasir putih. Atau main di bukit depan rumah mbah dan juga ke alun-alun jember yang ramainya minta ampun.

Tahun ini, aku sekeluarga mudik ke Ngawi. Sebuah kabupaten yang terletak di perbatasan jawa timur dan jawa tengah. Karena rumah mbah ngawi terletak di desa, otomatis juah dari keramaian. Saat takbiran sering mati lampu jadi tambah sepi. Untuk menyiasatinya, sebelum berangkat, aku dan adikku membeli bermacam-macam kembang api. Tadinya mau beli mercon juga, tapi di desa mbah, banyak orang yang sudah membuat mercon sendiri.

Dalam perjalanan, kami lebih banyak tidur. Perjalanannya sendiri bisa di bilang lancar, walaupun banyak pemudik lain. Jadi ingat beberapa tahun yang lalu, saat kami masih bermukim di jakarta. Berangkat satu hari sebelum lebaran. Hasilnya kami terkena macet bersama ribuan pemudik lainnya. Belum lagi, mobil yang mogok di jalan [melaz amir…]. Jadinya, kami harus menghabiskan waktu takbiran di jalan.

Banyak banget kan kenangan mudiknya??. Semoga lebaran kali ini juga banyak hal yang terjadi. Biarpun capek dalam perjalanan [yang capek mah cuma papa aja yang nyupir hehe…], tetap saja mudik adalah saat yang di tunggu-tunggu. Met mudik semua…  

Ilmu, AgamaOctober 10, 2007 7:33 am

Salah satu kegiatan yang sering di lakukan pada bulan ramadhon adalah i’tikaf. Iktikaf berarti bertafakur di dalam masjid dalam rangka untuk mencari keridhaan Allah. Hukum i’tikaf adalah sunnah namun bisa jadi wajib, jika seseorang bernazar akan melakukan i’tikaf. Adapun alasan seseorang untuk beri’tikaf sangat beragam. Ada yang beri’tikaf dalam rangka meramaikan bulan ramadhon, atau menunggu saat-saat turunnya lailatul qadar yang nilainya sama dengan ibadah seribu bulan.

I’tikaf dapat dilakukan kapan saja. Waktunya pun tidak di batasi, dengan tanpa batasan lamanya seseorang ber-I’tikaf. Begitu seseorang masuk ke dalam masjid dan ia niat I’tikaf maka syahlah I’tikafnya. I’tikaf dapat dilakukan selama satu bulan penuh, atau dua puluh hari. Yang lebih utama adalah selama sepuluh hari terakhir bulan suci.

Biasanya, masjid-masjid besar menjadi salah satu pilihan untuk beri’tikaf. Ada dua pendapat ulama tentang tempat i’tikaf. Ada ulama yang membolehkan iktikaf di setiap masjid yang digunakan untuk solat berjemaah. Hal itu dalam rangka menghindari seringnya keluar masjid dan untuk menjaga pelaksanaan sholat jema’ah setiap waktu.

Ulama yang lain mensyaratkan agar iktikaf dilaksanakan di masjid yang digunakan untuk sholat Juma’at, sehingga orang yang beriktikaf tidak perlu meninggalkan tempat iktikafnya menuju masjid lain untuk sholat Juma’at. Pendapat ini dikuatkan oleh para ulama Syafi’iyah bahwa tempat i’tikaf yang afdal yaitu iktikaf di masjid jami’, karena Rasulullah s.a.w iktikaf di masjid jami’ [eh, di malang kan juga ada masjid jami’]. Lebih afdal lagi bila i’tikaf di tiga masjid; Masjid al-Haram, Masjid Nabawi dan Masjid Aqsa [gile..jauh amat yah…hehe..].

Biar pun kita beri’tkaf karena kemauan kita sendiri, ada hal-hal yang tidak di perbolehkan selama kita beri’tikaf;

1. Berbuat dosa besar.
2. Bercampur dengan istri.
3. Hilang akal karena gila atau mabuk.
4.Murtad (keluar dari agama).
5. Datang haid atau nifas dan semua yang mendatangkan hadas besar.
6. Keluar dari masjid tanpa ada keperluan yang mendesak atau uzur, karena maksud I’tikaf adalah berdiam diri di dalam masjid dengan tujuan hanya untuk ibadah.
7. Orang yang sakit dan membawa kesulitan dalam melaksanakan I’tiakf.
Jika ada hal yang tidak di perbolehkan, maka ada hal yang di perbolehkan selama kita i’tikaf, yaitu;
  1. Keluar dari tempat iktikaf untuk menghantar isteri, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah s.a.w terhadap isterinya Sofiyah ra. (HR. Riwayat Bukhari dan Muslim)
  2. Menyisir atau mencukur rambut, memotong kuku, membersihkan tubuh dari kotoran dan bau badan.
  3. Keluar dari tempat keperluan yang harus dipenuhi, seperti membuang air besar dan kecil, makan, minum (jika tidak ada yang menghantarkannya), dan segala sesuatu yang tidak mungkin dilakukan di masjid, tetapi ia harus segera kembali setelah menyelesaikan keperluannya .
  4. Makan, minum, dan tidur di masjid dengan sentiasa menjaga kesucian dan kebersihan masjid.
Selamat beri’tikaf…..

Ilmu, Agama 3:25 am

Tidak terasa, ramadhon akan berlalu. Padahal, sepertinya baru kemarin memulai puasa [gayanya…hehe..]. Sebelum berlalu, ramadhan saat ini masih menyisakan malam lailatul qadarnya. Lailatul Qadar[LQ] atau malam ketetapan adalah satu malam penting yang terjadi pada setiap bulan Ramadhan. Dalam Al Qur’an digambarkan sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. LQ juga diperingati sebagai malam diturunkannya Al Qur’an. Keistimewaan malam ini dapat dijumpai pada surat ke-97 yaitu Surat Al Qadar.

Menurut Quraish Shihab, kata Qadar sesuai dengan penggunaannya dalam ayat-ayat Al Qur’an dapat memiliki tiga arti yakni [1]:
   1. Penetapan dan pengaturan sehingga Lailat Al-Qadar dipahami sebagai malam penetapan Allah bagi perjalanan hidup manusia. Penggunaan Qadar sebagai ketetapan dapat dijumpai pada surat Ad Dukhan ayat 3-5 : "Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Quran) pada suatu malam, dan sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan semua urusan yang penah hikmah, yaitu urusan yang besar di sisi Kami"
   2. Kemuliaan. Malam tersebut adalah malam mulia tiada bandingnya. Ia mulia karena terpilih sebagai malam turunnya Al-Quran. Penggunaan Qadar yang merujuk pada kemuliaan dapat dijumpai pada surat Al-An’am (6): 91 yang berbicara tentang kaum musyrik: "Mereka itu tidak memuliakan Allah dengan kemuliaan yang semestinya, tatkala mereka berkata bahwa Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada masyarakat"
   3. Sempit. Malam tersebut adalah malam yang sempit, karena banyaknya malaikat yang turun ke bumi, seperti yang ditegaskan dalam surat Al-Qadr. Penggunaan Qadar untuk melambangkan kesempitan dapat dijumpai pada surat Ar-Ra’d ayat 26: "Allah melapangkan rezeki yang dikehendaki dan mempersempit (bagi yang dikehendaki-Nya)"

Tidak ada yang tau, kapan terjadinya LQ. Ada yang mengatakan, LQ itu terdapat pada malam 10 terakhir Ramadhan, yaitu pada tanggal ganjil atau yang memastikan tanggal 21 atau tanggal 27. Akan tetapi, sebuah hadist dari Aisyah yang mengatakan : " Rasulullah ShallAllahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf di sepuluh hari terkahir bulan Ramadhan dan beliau bersabda, yang artinya: "Carilah malam Lailatul Qadar di (malam ganjil) pada 10 hari terakhir bulan Romadhon" (HR: Bukhari dan Muslim).

LQ  memiliki ciri-ciri yang berbeda dengan malam-malam lainnya. Ciri-cirinya adalah pada malam tersebut keadaan langit terang benderang, tidak terasa panas dan juga tidak terasa dingin. Sementara pada pagi harinya keadaan matahari putih bersih tidak bersinar. Saat itu, malaikat-malaikat turun ke bumi dipimpin oleh Malaikat Jibril dan mendatangi tiap umat Islam sambil mengucapkan salam. Kalau pada saat itu kita sedang dalam keadaan yang baik, dalam keadaan ingat pada Allah dan Rasul-Nya, dalam keadaan sedang beribadah maka insya Allah kita mendapatkan Lailatul Qodr.

Nah, masih ada 2 malam lagi sebelum ramadhon meninggalkan kita. Mari sama-sama menigkatkan ibadah. Bukan sekedar mengharapkan LQ, tapi untuk memperbaiki ibadah kita. Juga berharap, diberi umur panjang sehingga dapat bertemu ramadhon kembali. Amien ya robb…