Nama Bondan Winarno mungkin sudah tidak asing di telinga penikmat kuliner. Beliau adalah presenter acara kuliner yang di siarkan hampir setiap hari pada salah satu stasiun tv. Aku termasuk salah satu penggemar acara tersebut. Apa lagi acara ini di siarkan saat makan siang, bisa jadi makan siang kita yang biasa saja menjadi sangat istimewa. Cara beliau menikmati makanan yang sedang di santap sangat menarik. Bahasa yang beliau gunakan pun unik. Seperti "rasa kencurnya nonjok", "rasa pedasnya nendang" [bisa-bisa habis makan babak belur nih] atau yang paling sering terdengar adalah "nah, ini baru mak nyusss…". Beliau dapat  menerangkan rasa makanan tersebut dengan jujur. Jadi,  walau pun kita tidak mencoba makanan tersebut, tapi kita percaya bahwa makanan tersebut enak. Sehingga banyak orang yang tertarik untuk datang dan mencobanya.

Tidak hanya mahir dalam soal makanan, tapi beliau juga mahir menulis. Dari cerita anak-anak, cerita pendek, novel dan buku-buku tentang manajemen. Bondan Winarno lahir di Surabaya, 29 april 1950. Beliau mengawali karier sebagai juru kamera Puspen Hankam pada awal 1970-an, dan kemudian menjadi wartawan. Gazelle, cerpennya yang berlatar pengalamannya dalam tugas jurnalistik ke berbagai negara memenangi hadiah pertama lomba penulisan cerpen majalah Femina, 1984.

Beliau juga penulis kolom andal. Lulus kursus Marketing and Financial Management di Jakarta, beliau pernah secara tetap mengisi kolom yang membahas soal-soal manajemen. Pernah bekerja di perusahaan advertising dan menjadi pemimpin redaksi majalah SWA. Bondan winarno barangkali adalah orang yang paling tepat sebagai penulis Kiat. Keluasan pengalaman hidupnya membuat beliau mampu memasuki berbagai bidang pengetahuan dan menulisnya dengan baik sehingga orang yang sangat awam pun dapat paham membaca tulisannya.

Salah satu bukunya yang berjudul Seratus kiat, jurus sukses kaum bisnis dituturkan dalam bahasa yang sederhana. Walau berisi cerita, tapi yang membaca buku ini dapat menangkap maksud dari cerita tersebut. Kutipan-kutipan dalam buku ini, dapat menambah semangat dan menjadi kiat tersendiri. Seperti dalam salah satu judul "Mengatasi Kegagalan", Beliau mengutip ucapan De Bono.

    Yang penting bukanlah apakah seseorang pernah mengalami kegagalan. Tetapi cara dia mengatasi kegagalan itu. Saya selalu Bertanggung jawab atas kegagalan yang saya lakukan. Itu bukan berarti bahwa saya menyalahkan diri sendiri atau merasa bersalah karena telah melakukan kesalahan, tetapi sekadar mengakui bahwa sayalah penyebab kegagalan itu. Mencoba mencari penyebab lain dari kegagalan itu hanya berarti bahwa saya tidak bertanggung jawab atas kegagalan itu. [hal 131]


Memang hanya kita sendirilah yang bertanggung jawab atas semua yang telah kita lakukan. Bukan malah mencari kambing hitam [kasihan kan kambing hitam lagi yang di salahin…] atas kegagalan yang kita alami. Dan masih banyak lagi kiat-kiat yang disampaikan dalam buku ini. Maka, untung pencinta bacaan, buku ini memang "mak nyuuusss…".