Selama di ngawi, khususnya di pondok, banyak sekali hal yang terjadi. Aku bertemu dengan dua orang teman lama. Dwi dan marcelly yang masih mengajar di pondok. Cerita-cerita seru mengalir begitu saja tanpa ada habisnya. Dari cerita kenangan ketika masih mondok, sampai cerita tentang kabar teman-teman yang lain. Ternyata ada beberapa orang temanku yang baru saja menikah. Aku juga mengunjungi seorang teman yang kebetulan sekali baru melahirkan anak pertamanya. Anaknya seorang perempuan yang cantik dan sehat. Dani, temanku yang baru melahirkan itu, banyak bercerita pengalamannya melahirkan yang membuat aku sedikit takut. Pasca melahirkan, berat badannya langsung susut 10 kg. Pantas saja, badannya sudah terlihat seperti dulu.
Yang lucu adalah ketika aku dan whidha diajak dwi makan bakso di pasar mantingan yang tidak jauh dari pondok. Masalahnya, kita berangkat terlalu sore sehingga tidak banyak kendaraan kecil yang lewat. Setelah menunggu lama, akhirnya kendaraan yang biasa digunakan datang. karena sangat penuh, kita tetap nekad dan naik bersama dengan murid-murid SMP yang baru saja pulang sekolah. Selama perjalanan, kita berdiri di depan pintu sambil berpegangan dan berdoa semoga tidak jatuh. Bis kecil ini berjalan lambat dan goyang kesana kemari, mungkin karena beban yang terlalu banyak dan ketika ada pemumpang turun, mau tidak mau kita juga harus turun. 15 menit kemudian, kita sampai. Badan kita terasa lemas, gemetaran tapi tidak tau kenapa, kita malah tertawa mengingat kejadian lucu dan menegangkan diatas bis.
Setelah makan bakso, masalah lain pun datang. Memang baru jam 5 sore, namun tukang ojek mengatakan bis kecil sudah tidak ada yang lewat jadi kita disuruh ngojek sampai pondok. Tapi kita tetap menunggu sambil dan berharap bis kecil datang. 15 menit berlalu, dan yang lewat hanyalah bis-bis besar antar kota. Jujur saja, kita sudah agak panik, takut kemalaman sampai pondok. kita pun sepakat menunggu 5 menit lagi atau pulang naik becak. Memang aneh karena kita malah memilih menggunakan becak. Mending kemalaman di jalan naik becak tapi rame-rame dari pada naik ojek sendiri-sendiri.
5 menit berlalu dan bis yang kita tunggu tidak kunjung datang. kita sudah mau naik becak ketika ada bis besar yang biasa anak-anak pondok gunakan untuk keluar kota terlihat dari jauh. kita serentak menghentikan bis, berharap bis itu mau mengantar kita sampai pondok. Akhirnya, kernet bis tadi menaikkan kita tapi kondekturnya agak marah karena kita penumpang jarak yang sangat dekat. kita kasih senyuman yang paling manis untuk sang kondektur supaya tidak diturunkan ditengah jalan, dan berhasil. Hanya dalam watu 5 menit saja, kita sudah sampai depan pondok. Sebelum turun dari bis, kita berterima kasih sama supir, kernet dan kondetur. Dan lagi-lagi, saat sudah turun, kita tertawa lebar.
