Internet Murah untuk Pendidikan
Di zaman yang semakin berkembang ini, ternyata masih ada saja segelintir orang yang gaptek alias gagap teknologi. Masih ada orang yang menganggap komputer itu merupakan barang yang eksklusif sehingga tidak semua orang bisa menjangkaunya. Ketika ia dihadapkan dengan komputer maka ia akan takut menggunakannya. Takut rusak, takut tidak bisa memperbaiki dan takut-takut yang lainnya. sehingga ia akan lebih suka menjauhi komputer saja supaya aman.
Mengapa hal ini terjadi?Jawabnya sangat simpel. Karena kurangnya sosialisasi dunia informatika kepada masyarakat serta akses internet yang relatif mahal. Hal ini dikarenakan biaya infrastruktur telekomunikasi yang masih mahal. Untuk membangun infrastruktur telekomunikasi berbasis masyarakat, tanpa campur tangan pemerintah, tidaklah mudah. Hal ini tentu saja akan menimbulkan dampak yang cukup fatal mengingat dunia informatika merupakan kebutuhan primer dunia saat ini. Padahal, dunia informasi dan teknologi berkembang sangat cepat dan merambah ke semua aspek kehidupan. Dunia Pendidikan yang berperan mencetak generasi muda yang handal serta mampu untuk menguasai teknologi dengan baik, mau tidak mau terkena imbas yang sama yaitu tersentuh dengan teknologi. Pendidikan yang sampai saat ini masih identik dengan sekolah dan lembaga formal harus dapat memanfaatkan perkembangan teknologi dengan cara menyediakan sarana dan prasarana demi tercapainya suasana belajar dan mengajar yang kondusif.
Namun, kenyataan di lapangan tidak menunjukkan kemajuan yang berarti. Saat ini masih banyak sekolah-sekolah (terutama yang berada di daerah pedesaan) belum tersentuh teknologi, terutama komputer sehingga sekolah di pedesaan jauh tertinggal dari sekolah di perkotaan. Belum lagi sistem administrasi sekolah yang masih dikerjakan secara manual.
Bagaimana solusi dari permasalahan ini?. Tentu saja membuat masyarakat menjadi familier dengan benda ini. Salah satunya dengan teknologi internet. Karena internet adalah jendela dunia, masyarakat pasti akan tertarik untuk mempelajarinya. Masalahnya adalah saat ini internet masih mahal di negara ini. Bagaimana kita mengakalinya untuk mendapatkan manfaat tetapi dengan harga yang bisa dijangkau masyarakat?.
Banyak sekali program yang sudah dilakukan pemerintah guna mensosialisasikan dunia informatika sejak dini bagi siswa sekolah. Contohnya, siswa SMP dan SMU yang berada di Kota Pangkalpinang akan mendapatkan akses internet gratis dalam menunjang operasional program Pangkalpinang Education Cyber City. Dinas Pendidikan di kota tersebut, menyatakan bahwa pemerintah pusat memberikan bantuan melalui dana APBN Rp 1 miliar untuk penggunaan pulsa milik Telkom dengan skala besar dengan kapasitas 1 mega pulsa hingga siswa bisa mengakses gratis. Penggunaan Pangkalpinang Education Cyber City (jaringan Pendidikan Nasional berbasiskan web) yang diterapkan di Kota Pangkalpinang diharapkan dapat mendukung dan menunjang peningkatan mutu pendidikan (sumber: http://e-pendidikan.net/). Ini hanyalah salah satu contoh program pemerintah untuk mensosialisasikan dunia informatika di sekolah umum. Akan tetapi, anggaran tersebut sangatlah besar apalagi dikalikan dengan seluruh kota yang ada di Indonesia.
Lalu, bagaimana dengan dunia pesantren atau pondok yang pada umumnya juga masih tertinggal dalam teknologi?. Kebanyakan pondok pesantren salafiah sifatnya masih konservatif, artinya segala sesuatu harus melalui Pak Kyai. Bahkan pada pondok modern sekali pun. Bayangkan kalau Internet masuk ke pondok untuk memberdayakan santri, tentunya ada pola belajar mengajar serta mendidik yang selama ini di jalankan dapat berubah.
Sudah saatnya pemerintah memberikan perhatian khusus pada pendidikan pondok pesantren tanpa mencampuri pola pendidikan yang sudah di jalankan selama ini. Sekarang ini pemerintah hanya mengurusi sekolah negeri saja. Sekolah negeri, swasta maupun pondok pesantren sudah saatnya disejajarkan dalam hal bantuan yang diberikan. Dengan adanya internet yang masuk pondok pesantren, diharapkan dapat bermanfaat untuk menyediakan materi pendidikan yang dapat diakses orang banyak dan dapat digunakan bersama untuk pengembangan ilmu pengetahuan serta berbagai macam wawasan baru bagi santri .
Manfaat lainnya, santri dapat berdakwah digital atau dapat membuat situs-situs Islam, yang tidak sekedar situs-situs institusi Islam, tetapi berisi aneka informasi dan fasilitas yang memang dibutuhkan oleh umat Islam. Maka lengkaplah Internet menjadi salah satu media rujukan dan media dakwah Islam Indonesia.
Berikut ini salah satu contoh uraian penghitungan penggunaan internet di pondok pesantren sehingga tidak mengganggu jadwal kegiatan santri di pondok.
Jam Bebas santri di pondok yang pernah saya alami:
08.30 - 09.00 30 mnt
11.30 - 12.00 30 mnt
13.00 - 14.00 1 jam
16.00 - 17.00 1 jam
18.30 - 19.00 30 mnt
20.00 - 22.00 2 jam
———————- +
total/hari 5,5 jam
total/mggu 38,5 jam
jumlah santri 2500 org
Jam bebas santri/mggu 38,5 jam
komputer disediakan 40 unit
2500
——– = 1,63jam
40 x 38,5
kita bulatkan menjadi 2 jam hak akses santri tiap minggunya. Biarpun waktu santri untuk mengakses internet dibatasi, ini bukanlah halangan santri untuk belajar berinternet di pondoknya serta menjadikan santri untuk lebih dapat berkreasi dan memanfaatkan internet sebaik-baiknya.
Untuk menjadikan akses internet yang murah di kalangan pondok, maka alangkah baiknya biaya tersebut di jadikan urunan bulanan bagi para santri. Bila pondok berlangganan speedy yang unlimited, para santri cukup urunan Rp 2000 saja tiap bulannya lalu dikalikan 3000 santri, maka urunan tersebut lebih dari cukup untuk menutup biaya operasional akses internet tiap bulannya. Dua jam hak akses tipa minggunya atau 8 jam perbulan dengan iuran Rp 2000, menjadikan akses internet murah untuk dunia pendidikan pondok.

yepz.. sdh saatnya negara kita mengejar ketinggalan. Jgn sampe lg ada org yg masih parno sm kompi…
ngenet terusss… hehehehe
Comment by dyan — July 15, 2007 @ 8:30 am