Bukan, aku sekarang bukannya mau bernyanyi atau membahas lirik lagu si tampan gareth gates yang berjudul anyone of us [stupid mistake]. Tapi aku mau bercerita sedikit tentang kesalahan bodoh dari temanku. Pada hari sabtu tanggal 23 lalu, aku diminta membantu panitia wisuda di bagian penerimaan tamu. Bersama whidha, aku jalani tugas ini dengan sepenuh hati [he..he..], senyum manis pada tamu-tamu sambil memeriksa undangan dan memberikan album wisuda.
Banyak sekali tamu yang datang sampai aku tidak sempat memperhatikan hal-hal kecil. Ketika acara sudah dimulai masih ada beberapa tamu yang datang terlambat, pada saat itulah aku sadar teryata ada yang salah dengan undangan wisuda. Pada undangan terdapat tulisan berbahasa inggris yang salah. Ternyata tulisan tersebut juga terdapat pada album wisuda. Tidak perlu aku cantumkan di sini tulisan yang salah itu, tapi bagi yang ingin tahu silahkan lihat tulisan di depan kampusku. Terpampang dengan amat sangat jelas.
Sudah banyak orang yang memprotes bahkan memberi solusi untuk hal tersebut. Hari-hari berlalu tapi tidak ada tindak lanjut dari kampus maupun sang pembuat desain. Aku berhusnudhon, mungkin memang sudah tidak ada dana untuk memperbaiki tulisan tersebut sambil berharap kesalahan itu tidak akan terulang lagi. Nyatanya hal tersebut terulang lagi pada undangan dan album wisuda. Andai saja aku tau kesalahan itu lebih awal, aku akan mencari cara untuk menutupi hal tersebut. Itu memang bukan kesalahanku tapi sebagai seseorang yang masih terdaftar sebagai mahasiswi dikampus, aku merasa mempunyai kewajiban untuk memperbaiki kesalahan bodoh dari sang pembuat desain undangan dan album wisuda. Jujur saja aku malu bila hal tersebut menjadi bahan tertawaan orang banyak. Apakah sang pembuat desain juga merasakan hal yang sama?.
Memang manusia tempatnya salah dan lupa tapi kesalahan seperti ini amatlah tidak wajar karena sudah dilakukan sebelumnya. Mengapa tidak ada usaha sedikitpun dari sang pembuat desain untuk memperbaiki kesalahannya?. Mengapa sang pembuat desain tidak meminta bantuan orang lain untuk memeriksa desainnya sebelum naik cetak?. Mengapa tidak menggunakan bahasa indonesia saja?. Mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur. Yang pasti, kalau suatu saat aku membutuhkan sebuah desain atau merekomendasikan seorang desainer, namanya tidak akan ada dalam daftarku. Maaf saja….

hehehhe… kesalahan seperti itu seringkali membuat kita jengkel atau gimana ya?
Comment by zul — June 25, 2007 @ 5:02 pm
kesalahan yg sama. entahlah, mungkin memang terlalu sulit bagi yg empunya desain buat mengakui dan memperbaiki kesalahannya.
Comment by the ikal — June 27, 2007 @ 1:08 pm
apalagi gw yg jelas2 make undangan + album alumni, gmn klo ada tmn2 gw yg luar kmps komplin? dah ah gw telanjur malu. tp ya udahlah toh yg bikin nyante2 aj tuh
Comment by topha — June 27, 2007 @ 1:12 pm
ya…..kesalahan itu emang bikin jengkel apa lagi kita dulu diajarin agar tidak ngelakuin kesalahan ya gak!he…. Tapi ya kalau udah terjerumus dua kali itu namanya kebodohan sangat!he…… ya moga entar bisa gak lagi! Tapi kritiknya kerenlah , Buat ngebangun! siip teh!
Comment by dud's — June 27, 2007 @ 2:54 pm
dewasa dikit napa!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
jangan terlalu berlebihan napa!!!!!!!!!!
jangan manja napa!!!!!!111
kita hidup di tanah jawa,bukan di inggris ato di arab bukan juga di negara lain,wajar donk kalo bhsa inggris kaco,
ingat dengan darah kita yang menglir di dalam tubuh kita non,bukan darah orang inggris,ato pun orang bule,tapi orang jawa dan indonesia……..
tanah yg kita pijak pun bukan tanah orang bule….
leluhur kita pun bukan orang bule……
ingat non,ingat…..
hidup indonesia…..
Comment by c3l4k3t — June 27, 2007 @ 6:39 pm
to c3l4k3t : baguslah kalau merasa benar2 orang indonesia, tdk perlu berbahasa inggris bila tdk mampu sehingga tidak mempermalukan diri sendiri. Gunakan bahasa indonesia yang baik saja dulu kalau itu memang kemampuan anda bung!!!
jadi…anda lah yang harus bersikap dewasa.
Comment by nidaarifin — June 28, 2007 @ 3:55 am
sebenarnya yang desain ini memalukan,bagi seorang desainer,dia tidak bisa di anggap senainer grafis tapi editor grafis aja,dia mungkin tidak pernah mempunyai jiwa di desainya,sebagai seorang desainer grafis harus dapat meniupkan jiwa,bukan hanya salah tulis tapi tidak berjiwa
Comment by The idioy one — February 7, 2008 @ 7:45 pm