cerita2...June 21, 2007 10:53 pm

Ini cerita tentang Anisa, gadis kecil ceria berusia lima tahun.
Suatu sore, Anisa menemani ibunya berbelanja di sebuah supermarket.
Ketika menunggu giliran membayar, Anisa melihat sebentuk kalung mutiara mungil berkilauan,
tergantung dalam kotak berwarna pink yang sangat cantik.
Kalung itu nampak begitu indah, sehingga Anisa sangat ingin memilikinya.
Tapi, dia tahu,ibunya pasti akan keberatan.
Seperti biasa, sebelum berangkat ke supermarket Anisa sudah berjanji tidak akan meminta
apapun selain yang sudah disetujui ibunya untuk dibeli.
Tadi ibunya sudah menyetujui untuk membelikannya kaos kaki berenda yang cantik.
Namun karena kalung itu sangat indah, Anisa memberanikan diri bertanya, "Ibu, bolehkah Anisa memiliki kalung ini? Ibu boleh kembalikan kaos kaki yang tadi…"
Sang Bunda dengan segera mengambil kotak kalung dari tangan Anisa.
Dibaliknya tertera harga Rp. 15.000.
Dilihatnya mata Anisa yang memandang dengan penuh harap dan cemas
Sebenarnya Ibu bisa saja langsung membelikan kalung itu, namun dia tak mau bersikap tidak konsisten.
"Oke…Anisa, kamu boleh memiliki kalung ini. Tapi kembalikan kaos kaki yang kau pilih tadi.
Dan karena harga kalung ini lebih mahal dari kaos kaki itu, Ibu akan potong uang tabunganmu untuk
minggu depan, Setuju"
Anisa mengangguk lega, dan segera berlari riang mengembalikan kaos kaki ke raknya.
"Terima kasih .., Ibu" Anisa sangat menyukai dan menyayangi kalung mutiaranya.
Menurutnya, kalung itu membuatnya nampak cantik dan dewasa.
Dia merasa secantik Ibunya.
Kalung itu tak pernah lepas dari lehernya, bahkan ketika tidur.
Kalung itu hanya dilepasnya jika dia mandi atau berenang.
Sebab, kata ibunya, jika basah, kalung itu akan rusak, dan membuat lehernya menjadi hijau.
Setiap malam sebelum tidur, Ayah Anisa akan membacakan cerita pengantar tidur.
Pada suata malam,ketika selesai membacakan sebuat cerita, Ayah bertanya:
"Anisa..,Anisa sayang nggak sama Ayah?"
"Tentu dong..
Ayah pasti tahu kalau Anisa sayang ayah!"
"Kalau begitu, berikan kepada Ayah kalung mutiaramu…"
"Yah.., jangan dong ayah!Ayah boleh ambil "si Ratu" boneka kuda dari nenek! itu juga kesayanganku juga"
"Ya sudahlah sayang.. nggak apa-apa!" Ayah mencium pipi Anisa sebelum keluar dari kamar Anisa.
Kira-kira seminggu berikutnya, setelah selesai membacakan cerita, ayah bertanya lagi:
"Anisa…,Anisa sayang nggak sih, sama ayah?"
"Ayah, ayah tahu bukan kalau Anisa sayang sekali pada ayah?"
"kalau begitu, berikan pada ayah kalung mutiaramu."
"jangan ayah… Tapi kalau ayah mau, ayah boleh ambil boneka barbie ini." Kata Anisa seraya
menyerahkan boneka barbie yang selalu menenaminya bermain.
Beberapa malam kemudian, ketika ayah masuk ke kamarnya,
Anisa sedang duduk diatas tempat tidurnya.
Ketika didekati, Anisa rupanya sedang menangis diam-diam.
Kedua tangannya tergenggam diatas pangkuan.
Dari matanya, mengalir bulir-bulir air mata membasahi pipinya….
"Ada apa Anisa, kenapa Anisa?"
Tanpa berucap sepatah pun, Anisa membuka tangannya.
Didalamnya melingkar cantik kalung mutiara kesayangannya.
"Kalau ayah mau… ambilah kalung Anisa."
Ayah tersenyum mengerti, diambilnya kalung itu dari tangan mungil Anisa.
Kalung itu dimasukkan ke dalam kantong celana.
Dan dari kantong yang satunya, dikeluarkan sebentuk kalung mutiara putih.. sama cantiknya dengan kalung yang sangat disayangi Anisa.
"Anisa.. ini untuk Anisa. Sama bukan ?
Memang begitu nampaknya, tapi kalung ini tidak akan membuat lehermu menjadi hijau"
Ya.. ternyata ayah memberikan kalung mutiara asli untuk menggantikan kalung mutiara imitasi
Sahabat, demikian pula halnya dengan Tuhan.
Terkadang Dia meminta sesuatu dari kita,
karena Dia berkenan untuk menggantikannya dengan yang lebih baik.
Namun, kadang-kadang kita seperti atau bahkan lebih naif dari Anisa:
Menggenggam erat sesuatu yang kita anggap amat berharga, dan oleh karenanya tidak iklas bila harus kehilangan.

Cerita ini dari seorang teman yang sedang kuliah di mesir. Teman lama yang baru ketemu di FS. Konon cerita ini dari temannya, temanya dari temannya juga dan dari temannya lagi [emoticon cape de..]. Aku sudah dapet izin tuk upload cerita ini. Aku upload cerita ini karena hikmah yang bisa aku ambil dan semoga teman-teman yang baca cerita ini mendapatkan hikmah yg sama. 

buku 1:07 pm

Awalnya agak ragu membeli buku ini. Karena buku yang mau aku beli tidak ada , akhirnya aku beli juga buku ini. Sudah lama tidak beli buku.

Bercerita tentang seorang yang bernama ikal. Berasal dari daerah Belitong Timur yang kaya akan timah. Ayahnya bekerja pada sebuah penambangan timah. Ikal mempunyai seorang sepupu jauh bernama Arai yang sudah yatim piatu sehingga dari kecil tinggal bersama keluarga Ikal. Arai seorang yg tabah, pandai , cerdas dan penuh semangat. Ikal juga mempunyai seorang sahabat bernama Jimbron. Jimbron seorang yang gagap juga yatim piatu. Sepeninggal orang tuanya, dia diasuh oleh seorang pendeta yang baik hati karena tetap mengajarkan Jimbron agama yg dianut orangtuanya sebelum meninggal yaitu islam. Gagapnya dikarenakan kisah pilu masa kecil karena menyaksikan ayahnya meninggal. Dia sangat tergila-gila pada kuda.

Memasuki masa SMA, mereka bersekolah di SMA negeri pertama yang ada di kampung mereka. Mereka tinggal bersama di dekat dermaga. Pada waktu luang mereka bekerja menjadi kuli untuk mencari uang tambahan. Di sekolah, Ikal dan Arai adalah murid yang berprestasi terlepas dari kenakalan-kenakalan yang mereka lakukan bersama. Seperti ketahuan menonton film "panas" di bioskop oleh guru mereka. Sedangkan Jimbron mempunyai prestasi yang biasa-biasa saja tapi tetap semangat bersekolah.

Mereka mempunyai mimpi yg sama. Yaitu melanjutkan kuliah di Universite de Paris, Sorbonne, Prancis. Tapi pada akhir cerita Ikal dan Arai yang mendapat beasiswa di sana untuk melanjutkan kuliah S2.

Pada buku ini, aku sangat terkesan dengan kisah kehidupan Ikal dan Arai yang bisa mewujudkan mimpi mereka. Sebenarnya Ikal sempat tidak percaya diri dan menyerah untung mewujudkan mimpinya, tetapi Arai mengatakan "Orang seperti kita tak punya apa-apa kecuali semangat dan mimpi-mimpi, dan kita akan bertempur habis-habisan demi mimpi-mimpi itu. Tanpa mimpi, orang seperti kita akan mati…". Kata-kata tersebut sungguh memberi semangat tuk aku pribadi supaya aku tidak patah semangat mewujudkan mimpi2ku.

Selain itu, buku ini juga bagus sekali tutur bahasanya. Walaupun banyak menggunakan bahasa melayu tapi di tuturkan dengan baik sehingga aku bisa memahami isi cerita. Bagi yang suka membaca, tidak ada salahnya membaca buku ini. Yang pasti kita jangan berhenti bermimpi dan berusaha mewujudkan mimpi kita. Selamat membaca.

cerita2... 3:26 am

Kullun nafsin dzaikotul maut….inalillahi wa inna ilaihi roojiun…

Telah berpulang dengan tenang ayahanda yang tercinta dari teman kami, kak ertina sari pada hari kamis tgl 21 juni 2007 jam 01.00 wib. Insya allah akan di makamkan siang ini. 

Semoga arwah beliau di terima di sisi Allah dan di beri tempat yang layak. Begitu pula dengan keluarga yang di tinggalkan, di berikan kekuatan dan kesabaran. Amin ya robb…

Mohon kirim surat al-fatihah untuk ayahanda kak ertina dan untuk keluarga.