Idul adha baru seminggu berlalu, dan tidak terasa kita sudah memasuki minggu terakhir bulan desember atau minggu terakhir sebelum tutup tahun. Pastinya banyak hal yang sudah kita lalui. Nggak terasa waktu cepet berlalu. Masih segar dalam ingatan kejadian-kejadian saat idul adha tahun-tahun sebelumnya. Dan ini membuat aku banyak bersyukur karena masih bisa melewati satu idul adha lagi.
Saat umurku belum menginjak 5 tahun, orang tuaku pindah ke Jakarta. Mengontrak di daerah pejaten timur, pasar minggu. Rumah kontrakanku waktu itu dekat dengan sebuah madrasah, namanya Pesantren As-Syifa. Aku mulai masuk As-syifa ketika sudah masuk SD. Seingat aku, mama juga mengajar di As-syifa sehingga aku jadi sangat dekat dengan para pengajar [ustadz] yang kebanyakan masih bujangan.
Nah, waktu idul adha sudah pasti As-syifa ramai banget. Setelah sholat id di lapangan yang nggak jauh dari rumah, semua warga sekitar yang tinggal dekat as-syifa berkumpul untuk membantu pemotongan hewan kurban. Bahkan santri As-syifa berdatangan, ikut-ikutan sibuk [maksudnya, sibuk sendiri he..]. Selesai memotong kurban, kita makan-makan dengan ustadz di rumahku atau di rumah ketua yayasan as-syifa, Pak zamzam [ayah dari sahabatku]. Lalu, aku sekeluarga pindah ke rumah sendiri. Tapi jaraknya nggak jauh dari As-syifa sehingga setiap idul adha, aku masih bisa melihat pemotongan kurban di sana.
Kelas 5 SD, papa ditugaskan menjadi konsultan di Dompu, NTB. Mama, kak nana, aku dan lia masih di Jakarta. Kontaknya sih cuma 1 tahun, tapi kalau membawa keluarga menjadi 3,5 tahun. Sekitar 2 bulan di Dompu, papa merayu kami untuk ikut ke sana dengan iming-imingan naik pesawat. Cuma mama yang nggak tertarik mendengar tawaran papa, jadi tapi kita semua membantu papa untuk merayu mama. Akhirnya mama nyerah dan kami semua nyusul papa. Jadi, kita merasakan lingkungan baru, rumah baru, sekolah baru, dan otomatis suasana idul adha yang baru.
Menurutku, idul adha disana lebih rame dari pada idul fitri. Semua orang bersemangat untuk ikut takbiran dan silaturahmi saat idul adha. Kita semua holat id di lapangan depan kantor bupati. Berangkat dari rumah bersama beberapa karyawan papa. Habis sholat, potong kambing di kantor lalu makan-makan di rumah. Hampir seluruh karyawan papa datang baik untuk membantu potong kambing atau makan-makan. Makanannya pun nggak cuma daging kambing aja, tapi ada udang, rajungan dan ikan. Maklumlah, segala jenis ikan di Dompu sangat murah. Jadi kebayang dong gimana ramenya.
Lulus SD, aku merayakan idul adha di Pondok. Pertama kali ikut sholat id di pondok, sedih banget nggak bisa bareng keluarga. Papa dan mama pun nggak bisa datang jenguk aku dan kakak karena sedang menunaikan ibadah haji. Malam takbiran, seluruh santri takbiran keliling pondok dan kumpul di masjid. Setelah takbiran sebentar di masjid, lalu tiap asrama dibagi untuk takbir bergiliran. Paling nggak enak dapat giliran tengah malam. Baru tidur sebentar, sudah harus bangun untuk takbiran. Walhasil, di masjid bukannya takbiran tapi meneruskan tidur hehe..
Paginya, kita cepat-cepat bangun untuk mandi, bersih-bersih kamar atau sekitar asrama dan juga siap-siap sholat id. Suasananya rame banget karna sholat id bukan hanya untuk santri, tapi dibuka untuk umum. Setelah sholat, kita bisa melihat pemotongan puluhan hewan kurban yang dilakukan ustadz. Sedangkan Ustadzah dan kelas 6 yang ditugaskan untuk menguliti, memotong-motong, menimbang dan membagikan daging. Ada juga yang kebagian membersihkan jeroan hewan kurban di sungai dekat pondok.
Selama 6 tahun mondok, kelas 6 adalah idul adha yang paling berkesan. Yah, aku dan temen-temen seangkatanlah yang membantu proses pemotongan hewan kurban. Aku kebagian tugas untuk memotong daging yang sudah dikuliti [untung nggak disuruh megangin hewan yang mau di sembeleh hiy…]. Darah yang masih banyak di daging membuat aku nggak kuat lama-lama memotongnya. Aku pindah ke bagian penimbangan [enakkan???curang sih he..].
Siang, acara pemotongan di hentikan. Karena masih ada beberapa hewan yang belum di sembelih, maka dilanjutkan keesokan harinya. Sorenya, aku kekamar teman. Kaget juga ngeliat dia lagi nyate apalagi nyate dengan cara ajaib. Gimana nggak ajaib, lah itu sate dibakar di atas setrikaan [eits..strika areng lah..]. Lagi pula, nggak tau gimana cara dia bisa menyelundupkan daging. Tapi, aku ikutan makan juga sih, kapan lagi bisa nyate bareng temen-temen [jangan di tiru nih..].
Lulus pondok, aku pindah ke malang. Aku merayakan idul adha lagi bareng keluarga. Dua tahun lalu, aku cari hewan kurban sampai di Batu. Dapat 2 kambing. Karena nggak punya kendaraan lain, maka di masukkan bagasi mobil. Lucunya ketika di jalan, kambingnya berdiri sampai tutup bagasi kebuka. Untungnya nggak sampai kabur tuh kambing. Walau, sempat jadi tontonan orang-orang dipinggir jalan.
Paling berkesan adalah idul adha tahun lalu yang jatuh pada 31 Desember. Aku harus merayakan idul adha sendiri. Papa, mama dan zahwa ke Dompu sedangkan lia masuk pondok dan kak nana di jakarta. Walhasil, aku di malang ditemani sahabatku, Whidha. Papa ninggalin uang untuk beli kambing. Karena aku nggak berpengalaman beli, aku nitip ke tetangga.
Sehabis sholat id, tetanggaku manggil aku untuk melihat pemotongan kurban tapi aku memilih nemenin whidha yang kebetulan lagi kurang sehat. Akhirnya, aku cuma nonton TV aja di rumah. Bosen sih, tapi mau gimana lagi. Nggak taunya aku dan whidha tertidur di depan TV dan bangun-bangun, sudah ada sate dan gule tersedia di meja makan lengkap dengan nasi dan sambal. Wah, tetanggaku memang baik banget deh. Kita tinggal makan aja.
Banyak hal yang terjadi selama idul adha yang harus aku syukuri. Dari idul adhaku dulu sampai yang sekarang. Idul adha di berbagai tempat yang berbeda menjadikan aku kaya pengalaman [sok tua nih hehe…]. Idul adha juga mengajarkan aku untuk berbagi, dengan siapa saja. Apa lagi saat idul adha di pondok. Kadang, aku sangat merindukan suasana idul adha di pondok. Tapi aku nggak mungkin balik ke masa lalu. Harapanku, semoga suatu saat, aku bisa membeli kurban dengan hasil jerih payahku sendiri. Amien…