coretankuMay 27, 2008 6:34 am

    Beberapa hari yang lalu, aku dan mama ngobrol sama ibu belakang rumah. Biasalah…namanya juga hidup bertetangga, boleh dung ngobrol-ngobrol. Kita lagi ngobrolin masakan, harga-harga yang makin mahal. Dari hal-hal yang penting, sampai yang nggak penting diomongin. Nggak lama, mbak menik [tatanggaku juga neh..] ikutan nimbrung.

     Dengan semangat tapi penuh keprihatinan [gimana tuh???], dia cerita kalau baru aja mergokin 4 anak tetanggaku "memalak" anak seberang rel. Bukan cuma diambil uangnya oleh keempat anak tetanggaku itu, mereka berempat sempat mukulin anak yang dipalak itu. Masyaallah….ko bisa yah anak-anak itu berbuat sampai seperti itu??. Akhirnya kita semua sepakat, bahwa sinetron-sinetron sekarang yang banyak adegan kekerasannyalah penyebabnya.

    Datanglah mbak ninik, tetangga depan rumahku yang punya anak TK. Ikutan nimbrung karena tadi sempat melihat mbak menik marahin keempat anak itu dan mengancam diadukan ke orang tua masing-masing [setuju…setuju…]. Lalu mbak ninik cerita, katanya jangankan anak SD, anak TK yang sekolah bareng anaknya aja sudah pada pinter malak. Ckckckck….gileee…..

    Benar-benar memprihatinkan yah, anak seusia TK aja sudah punya mental preman. Gimana nanti kalau sudah besar?? Tapi semoga mereka semakin menjadi anak baik deh. Kan masa depan ada ditangan mereka juga. Untuk pemerintah kita nih, gimana kalau tayangan-tayangan yang nggak berguna dibumihanguskan aja??. Biar anak-anak kecil yang belom tau apa-apa, nggak meniru hal yang salah apa lagi sampai mempraktekkannya. Ada yang setuju pendapat aku??

coretankuMay 13, 2008 5:52 am

    Sabtu lalu, aku menyerahkan laporan skripsi yang sudah di jilid ke bagian BAAK. Eh, karyawan BAAK yang ngurusin foto untuk ijasah nyuruh aku ganti pasfoto yang sudah aku kasihkan beberapa hari sebelumnya. Katanya sih terlalu banyak senyum, kan sayang kalau mau di buat foto ijasah. Padahal, menurut aku fotonya sudah bagus. Senyum kan karna aku seneng banget sudah lulus kuliah. Yah..mau gimana lagi, dari pada gak dapet ijasah.

       

    Nah, ini dia foto yang terlalu senyum dan foto yang akan aku serahkan lagi ke bagian BAAK kampus. Kalau mamaku sih juga lebih seneng sama foto yang terlalu senyum itu, katanya aku jadi kelihatan gemuk dan gak judes emoticon. Tapi harus diganti neh, yah nurut aja lah. 

coretankuApril 11, 2008 2:16 pm

Tadi siang aku ujian skripsi. Jam 13.30 masuk ruang ujian [molor 30 menit], jam 14.35 aku keluar ruang ujian. Lalu…..Lulus. Alhamdulillah…….. Wah…senengnya…..Menghaturkan banyak terimakasih kepada Orang tua dan keluarga [kak nana, lia, zahwa, mbah kakung, mbah putri, paman, bulek, de el el…] yang nggak hentinya mendoakan dan memotivasi agar cepat lulus. Ribuan terimakasih untuk Keluarga besar Pondok Modern Gontor [khususnya Ust Ma’ruf], Keluarga besar Pondok Al-amien Prenduan Madura [Kyai Idris, Nyai Zahroh, Nyai Anis, Ust Tidjani, Ust Dani].

Terimakasih juga untuk dosen pembimbing, Pak Henry dan Pak Yerry yang telah membimbing dengan ikhlas. Demikian juga untuk dosen penguji, Pak Rosyid [matur nuwun atas sarannya pak…] dan Pak Hari. Whidha [nenek] Yunis Dian [syukron yah…atas seeemuanya…], Hanan, Singgih, Mas Ikal, wawan, zanu [jangan nyerah ma TAmu yee..], suwun yah atas bantuannya. Temen-temen yang baru lulus zin, yoga, adyt, zul, rano, dimas, yusi, norma [eh…masih besok, tapi aku yakin kamu lulus say…], ternyata…kita BISA…

Untuk temen-temen yang sudah lulus duluan, yudi, taufik, mas agusB, tri, makasih juga doa dan semangatnya. Yang segera menyusul, solie, musmaini, ike, agusP, angga, bejo, tinus, hasyim dan indra, ayo…buruan, kalian juga BISA ko!!! Temen-temen chatting [aduh…bnyk nih, jd ga bisa di sebutin smua…], temen-temen pondok [iyang, fitri, ipeh de el el…], temen SD nun jauh di sana…makasih..makasih….Sekali lagi, terimakasih atas semua dukungan, doa dan motivasi dari semuanya. [buat yang nggak kesebut, maaf yah…]

coretankuMarch 6, 2008 6:24 am

   

Sebenarnya, foto-foto ini sudah lumayan lama. Kalau nggak salah, sehabis ujian semester. Jadi, waktu itu, aku, ike dan norma habis ujian. Waktu ujian, mati lampu jadi kita ngerjain ujian semampunya deh [mang biasanya gimana??hehehe…]. Nah, selesai ujian, aku ke kosan norma. Nggak taunya, norma sudah di tunggu musmaini dan mbak khodijah untuk pergi ke playground di samping matos. Nganterin ponakan mbak khodijah yang kebetulan lagi liburan.

Tadinya, aku mau langsung pulang aja, tapi yang lain protes. Ya sudah lah, dari pada nganggur juga di rumah, akhirnya aku ikut. Sebelumnya aku pulang dulu ngambil kamera sama ike. Yang lain naik angkot jadi langsung ketemu di sana. Di jalan, aku sama ike kehujanan. Jadi kita terlambat sampai sana. Untungnya playground belum tutup. 

Di playground, ternyata ada tembok yang di bentuk lucu-lucu. Macam "hole in the wall"nya rcti [yang suka nonton kuis pasti tau niy..]. Akhirnya, aku, ike, norma dan musmaini ambil posisi yang oke untuk foto-foto [lagian nggak ada permainan lain, nggak mungkin dung kita ikutan mandi di kolam anak-anak..hihihi..]. Selain itu, kita foto-foto di taman bermainnya. Lumayan seru juga… 

   

cerita2...March 4, 2008 8:13 am

Ternyata…sudah lama banget aku nggak nulis. Tau niy ngapain aja sampai nggak menyempatkan diri tuk nulis. Padahal bulan lalu kan liburan kuliah, tapi kok ya..sampai nggak ada satu pun tulisan yang muncul. Payah dan kebangetan banget deh…

Sebenarnya bukan karena kehabisan ide nulis, atau nggak punya cerita menarik yang bisa di ceritain. Justru banyak hal yang bisa aku ceritakan, dari mulai ujian semesterku, sampai lembur ngeprint raport di SMA singosari sampai jam 1 malam. Tapi yah…gitu dey, malesnya di turutin jadi tulisan nggak kelar-kelar.   

Tapi sekarang mau mulai nulis lagi ah, udah kangen banget sama nulis. Apalagi ini berhubungan dengan cita-citaku sendiri. Yah, walau mungkin nggak bisa sebanyak dulu lagi, namanya juga baru mulai lagi. Dari pada kosong blong nih blog. Yang penting SEMANGAT dulu lah… 

cerita2...January 6, 2008 8:04 am

Akhir desember kemarin, aku dapet ponakan baru nih. Anak ke dua dari sepupuku. Anak pertamanya laki-laki, dan sekarang dapet laki-laki lagi. Kalau ada anggota keluarga baru, aku paling suka nyumbang nama. Nama anak pertamanya, juga dari sumbanganku [hehehe…sumbangan coba..]. Waktu itu aku nyumbang nama "raihan" yang artinya wangi surga. So, nama panjangnya raihan brevial haq. Keren kan???

Makanya, waktu tau istri sepupuku itu sudah melahirkan, aku, kak nana dan whidha nggak buang-buang waktu untuk mencari nama. Cari di buku, sampai di kamus. Akhirnya ketemu lah nama yang kira-kira cocok. Fahri Yukitaro el Kanza. Fahri artinya kebanggaan, yukitaro artinya berani dan kanza artinya piala. Maksudnya sih, biar itu anak menjadi pemberani dan seperti piala yang bisa menjadi kebanggaan keluarga. Aku sms ke sepupuku. Katanya sih bagus, tapi dia juga masih nunggu sumbangan nama lain.

Beberapa hari lalu, aku baru bisa nengok anaknya sama papa, mama dan kak nana. Aduh, anaknya cakep banget. Imut dan nggak rewel. Waktu ke sana, bayinya lagi tidur. Pules banget. Pengennya aku gangguin gitu deh, biar bangun. Tapi nggak tega. Oya, bayinya di kasih nama Bianveneida Madiva Kanza. Sayangnya, aku kemarin lupa menanyakan arti namanya. Tapi pasti artinya bangus, kan nama adalah do’a. Selamat datang bian…

coretankuJanuary 2, 2008 7:24 am

Tepat tanggal 1 kemarin, aku dapat beberapa sms dari teman-teman. Yah, mereka mengucapkan selamat tahun baru. Atau sekedar memberi tau kegiatan malam tahun baru mereka. Ada yang ngumpul sama teman-teman, nonton tv [kaya aku..emoticon], dan tidur. Bahkan ada yang sms menanyakan keberadaan sahabatku [nggak nyambung deh…].

Wishing you: 12 months of happines, 48 weeks of joys, 365 days of laughs, 8760 hours of success, 525600 minutes of hopes and 31536000 seconds of lucks. Happy new year…. [sms dari titis..] 

Ok deh, untuk semua, aku ucapkan juga ‘met tahun baru’. Semoga kedepan, kita bisa menjadi seseorang yang lebih baik. Lebih bijaksana menyikapi hidup. Dapat meraih cita-cita. Sukses dan selalu sehat. Makin mendekatkan diri sama sang Kholik dan selalu dalam lindungannya. Amien..ya rabb…Ayo semangat….

cerita2...December 26, 2007 6:43 am
Idul adha baru seminggu berlalu, dan tidak terasa kita sudah memasuki minggu terakhir bulan desember atau minggu terakhir sebelum tutup tahun. Pastinya banyak hal yang sudah kita lalui. Nggak terasa waktu cepet berlalu. Masih segar dalam ingatan kejadian-kejadian saat idul adha tahun-tahun sebelumnya. Dan ini membuat aku banyak bersyukur karena masih bisa melewati satu idul adha lagi.
 
Saat umurku belum menginjak 5 tahun, orang tuaku pindah ke Jakarta. Mengontrak di daerah pejaten timur, pasar minggu. Rumah kontrakanku waktu itu dekat dengan sebuah madrasah, namanya Pesantren As-Syifa. Aku mulai masuk As-syifa ketika sudah masuk SD. Seingat aku, mama juga mengajar di As-syifa sehingga aku jadi sangat dekat dengan para pengajar [ustadz] yang kebanyakan masih bujangan.
 
Nah, waktu idul adha sudah pasti As-syifa ramai banget. Setelah sholat id di lapangan yang nggak jauh dari rumah, semua warga sekitar yang tinggal dekat as-syifa berkumpul untuk membantu pemotongan hewan kurban. Bahkan santri As-syifa berdatangan, ikut-ikutan sibuk [maksudnya, sibuk sendiri he..]. Selesai memotong kurban, kita makan-makan dengan ustadz di rumahku atau di rumah ketua yayasan as-syifa, Pak zamzam [ayah dari sahabatku]. Lalu, aku sekeluarga pindah ke rumah sendiri. Tapi jaraknya nggak jauh dari As-syifa sehingga setiap idul adha, aku masih bisa melihat pemotongan kurban di sana.
 
Kelas 5 SD, papa ditugaskan menjadi konsultan di Dompu, NTB. Mama, kak nana, aku dan lia masih di Jakarta. Kontaknya sih cuma 1 tahun, tapi kalau membawa keluarga menjadi 3,5 tahun. Sekitar 2 bulan di Dompu, papa merayu kami untuk ikut ke sana dengan iming-imingan naik pesawat. Cuma mama yang nggak tertarik mendengar tawaran papa, jadi tapi kita semua membantu papa untuk merayu mama. Akhirnya mama nyerah dan kami semua nyusul papa. Jadi, kita merasakan lingkungan baru, rumah baru, sekolah baru, dan otomatis suasana idul adha yang baru.
 
Menurutku, idul adha disana lebih rame dari pada idul fitri. Semua orang bersemangat untuk ikut takbiran dan silaturahmi saat idul adha. Kita semua holat id di lapangan depan kantor bupati. Berangkat dari rumah bersama beberapa karyawan papa. Habis sholat, potong kambing di kantor lalu makan-makan di rumah. Hampir seluruh karyawan papa datang baik untuk membantu potong kambing atau makan-makan. Makanannya pun nggak cuma daging kambing aja, tapi ada udang, rajungan dan ikan. Maklumlah, segala jenis ikan di Dompu sangat murah. Jadi kebayang dong gimana ramenya.
 
Lulus SD, aku merayakan idul adha di Pondok. Pertama kali ikut sholat id di pondok, sedih banget nggak bisa bareng keluarga. Papa dan mama pun nggak bisa datang jenguk aku dan kakak karena sedang menunaikan ibadah haji. Malam takbiran, seluruh santri takbiran keliling pondok dan kumpul di masjid. Setelah takbiran sebentar di masjid, lalu tiap asrama dibagi untuk takbir bergiliran. Paling nggak enak dapat giliran tengah malam. Baru tidur sebentar, sudah harus bangun untuk takbiran. Walhasil, di masjid bukannya takbiran tapi meneruskan tidur hehe..
 
Paginya, kita cepat-cepat bangun untuk mandi, bersih-bersih kamar atau sekitar asrama dan juga siap-siap sholat id. Suasananya rame banget karna sholat id bukan hanya untuk santri, tapi dibuka untuk umum. Setelah sholat, kita bisa melihat pemotongan puluhan hewan kurban yang dilakukan ustadz. Sedangkan Ustadzah dan kelas 6 yang ditugaskan untuk menguliti, memotong-motong, menimbang dan membagikan daging. Ada juga yang kebagian membersihkan jeroan hewan kurban di sungai dekat pondok.
 
Selama 6 tahun mondok, kelas 6 adalah idul adha yang paling berkesan. Yah, aku dan temen-temen seangkatanlah yang membantu proses pemotongan hewan kurban. Aku kebagian tugas untuk memotong daging yang sudah dikuliti [untung nggak disuruh megangin hewan yang mau di sembeleh hiy…]. Darah yang masih banyak di daging membuat aku nggak kuat lama-lama memotongnya. Aku pindah ke bagian penimbangan [enakkan???curang sih he..].
 
Siang, acara pemotongan di hentikan. Karena masih ada beberapa hewan yang belum di sembelih, maka dilanjutkan keesokan harinya. Sorenya, aku kekamar teman. Kaget juga ngeliat dia lagi nyate apalagi nyate dengan cara ajaib. Gimana nggak ajaib, lah itu sate dibakar di atas setrikaan [eits..strika areng lah..]. Lagi pula, nggak tau gimana cara dia bisa menyelundupkan daging. Tapi, aku ikutan makan juga sih, kapan lagi bisa nyate bareng temen-temen [jangan di tiru nih..].
 
Lulus pondok, aku pindah ke malang. Aku merayakan idul adha lagi bareng keluarga. Dua tahun lalu, aku cari hewan kurban sampai di Batu. Dapat 2 kambing. Karena nggak punya kendaraan lain, maka di masukkan bagasi mobil. Lucunya ketika di jalan, kambingnya berdiri sampai tutup bagasi kebuka. Untungnya nggak sampai kabur tuh kambing. Walau, sempat jadi tontonan orang-orang dipinggir jalan.
 
Paling berkesan adalah idul adha tahun lalu yang jatuh pada 31 Desember. Aku harus merayakan idul adha sendiri. Papa, mama dan zahwa ke Dompu sedangkan lia masuk pondok dan kak nana di jakarta. Walhasil, aku di malang ditemani sahabatku, Whidha. Papa ninggalin uang untuk beli kambing. Karena aku nggak berpengalaman beli, aku nitip ke tetangga.
 
Sehabis sholat id, tetanggaku manggil aku untuk melihat pemotongan kurban tapi aku memilih nemenin whidha yang kebetulan lagi kurang sehat. Akhirnya, aku cuma nonton TV aja di rumah. Bosen sih, tapi mau gimana lagi. Nggak taunya aku dan whidha tertidur di depan TV dan bangun-bangun, sudah ada sate dan gule tersedia di meja makan lengkap dengan nasi dan sambal. Wah, tetanggaku memang baik banget deh. Kita tinggal makan aja.
 
Banyak hal yang terjadi selama idul adha yang harus aku syukuri. Dari idul adhaku dulu sampai yang sekarang. Idul adha di berbagai tempat yang berbeda menjadikan aku kaya pengalaman [sok tua nih hehe…]. Idul adha juga mengajarkan aku untuk berbagi, dengan siapa saja. Apa lagi saat idul adha di pondok. Kadang, aku sangat merindukan suasana idul adha di pondok. Tapi aku nggak mungkin balik ke masa lalu. Harapanku, semoga suatu saat, aku bisa membeli kurban dengan hasil jerih payahku sendiri. Amien…
coretankuDecember 17, 2007 1:52 am
Hady Mirza..ha…ha…    
Ini adalah teriakan kakakku hanya beberapa detik sebelum Ata sang presenter imut mengumumkan pemenang asian idol. Lagi asik-asiknya nonton ketegangan para peserta idol menunggu pengumuman, kakak yang sedang tiduran sama aku, langsung bangun dan teriak ‘Hady Mirza…’. Belum selesai rasa kagetku, semakin di perparah oleh teriakan Ata. ‘And the first Asian Idol goes to, Hady Mirza, Singapore’. What..???Kaget, melongo nggak percaya. Mungkin tampangku saat itu mirip Hady yang juga nggak percaya kalau sudah menjadi ‘the first asian idol’ [meksoo…]. Papa yang kebetulan masih ikut nonton, langsung bangun dan menuju kamar sambil bergumam ‘nggak masuk akal’. Sedangkan komentar mama lain lagi, ‘zzZZZZzzzz…..’ [eh..udah tidur…].
 
Kok bisa yah Hady yang menang??? Padahal kualitas suara peserta lain ada yang jauh di atas Hady. Makanya, tidak heran banyak orang bahkan juri memprediksikan Mike, Jaclyn atau Mau yang akan keluar sebagai pemenang [tapi..kualitas suara Hady jauuuuhhh di atas aku kok hehehe…]. Pasti banyak orang yang sama-sama nggak percaya kenapa Hady yang keluar sebagai jawara. Mengingat, penduduk singapura yang jauh lebih sedikit ketimbang negara-negara asal idol lainnya. Setelah pengumuman, Hady menyanyikan kembali lagu ‘Berserah’ yang dia bawakan malam sebelumnya. ‘Dia berserah banget sih, makanya menang’ candaku ke kakak. Tapi menurut aku, saat menyanyikan lagu ‘berserah’, dia sangat menghayati jadi kelihatan bagus. Begitu acara selesai, aku langsung menuju kamar sambil menduga besok pasti rame.
 
Paginya, ternyata dugaanku nggak meleset. Koran, infotainment dan blog banyak yang memberitakan kemenangan kontroverisal ini. Di salah satu blog yang aku baca, beropini tentang sistem pemilihannya. Karena diharuskan memilih dua negara berbeda, negara pertama yang di pilih pasti negara mereka sendiri, dan yang kedua adalah negara lainnya. Pasti para pendukung nggak mau penyanyi andalan dari negara masing-masing kalah dengan pesaing terkuatnya, jadi para pengirim sms memilih penyanyi yang nggak diunggulkan. Misalnya aja pendukung Indonesia pasti nggak akan memilih Philipina atau Malaysia yang menjadi pesaing terberat dari Mike Mohede [eh..yang paling berat kan mike yah..he..], pemilih dari negara lain juga melakukan hal yang sama.
 
Selain itu, banyak juga yang komentar miring tentang kemenangan Hady. Ada yang bilang kalau cowok yang bernama asli Muhammad Mirzahady Amir ini memenangkan kontes karena menang tampang aja, sehingga memikat hati banyak wanita. Bahkan, mengait-ngaitkan kemenangan ini dengan Indosat dan Telkomsel. Yah, siapa sih yang nggak tau kalau Indsoat dan Telkomsel sekarang sudah menjadi milik SingTel yang notabene adalah perusahaan singapura. Banyak juga yang menduga, pasti ada apa-apanya nih. Wah, kalau hal ini benar, siapa tuh yang pantas di persalahkan??? [aduh Bu…makanya jangan asal main jual…rugi deh…].
 
Mungkin juga karena Singapura adalah sebuah negara yang sangat maju dalam segala hal termasuk dalam bidang ekonomi. Pendapatan penduduknya menjadi salah satu yang teratas di kawasan Asia. Nggak heran meski penduduk mereka sedikit tapi pulsa SMS mereka yang paling banyak. Sempat juga bertanya dalam hati, sama nggak yah tarif sms mereka dengan kita yang Rp 2000 per sms. Bukan apa-apa nih, tarif sms kita yang cuma 300 perak aja sudah termasuk yang paling mahal dari negara lain, apalagi kalau sekali sms 2000 perak. Itu kan berkali-kali-kali-kali lipat [banyak kali ni…]. 
 
Biar bagaimanapun, Asian Idol telah terpilih. Ini membuat aku tersadar untuk tidak memandang sesuatu sebelah mata. Ini terbukti dengan apa yang terjadi dengan Hady. Dia bukan seorang yang di unggulkan bahkan di jadikan pilihan kedua tapi bisa menang dengan suara yang sangat meyakinkan. Semua orang yang memandang sebelah mata padanya, sontak membuka mata lebar-lebar. Selamat dan sukses deh buat Hady Mirza, dan buat Mike, kamu sudah memberikan Indonesia yang terbaik [tapi jangan nyanyi ‘I believe I can fly’ n ‘Mengejar matahari’ mulu yah, bosen dengernya..]. Selamat juga buat Indonesia yang sudah bisamenyelenggarakan acara ini dengan sukses.
info2December 15, 2007 3:50 am
Siapa sih yang nggak tau Gontor??. Pondok ini sudah mencetak ribuan alumni yang tersebar di seluruh Indonesia. Banyak alumni yang sukses dan menjadi tokoh masyarakat, tokoh agama, budayawan, pangusaha, bahkan artis [eh..denger-denger vokais ‘kangen band‘ jebolan gontor loh…hihi..bener nggak yah??]. Bukan hanya alumni, Pondok Gontor sendiri sudah berdiri di banyak kota. Ini karena cita-cita  Gontor adalah mendirikan seribu Gontor. Dua hari yang lalu, aku mau menulis profile Gontor untuk bahan skripsi. Dari beberapa buku yang aku punya, lalu aku rangkum, dan inilah sedikit sejarah Gontor.
 
Pondok Tegalsari
Pada abad ke-18, hiduplah seorang Kyai besar bernama Kyai Ageng Hasan Bashari atau Besari di desa Tegalsari. Tegalsari adalah sebuah desa terpencil lebih kurang 10km ke selatan Ponorogo. Di sinilah Kyai Ageng mendirikan sebuah pondok yang di kenal dengan Pondok Tegalsari. Dalam sejarah, Pondok ini pernah mengalami masa keemasan dan menyumbangkan jasa yang besar dalam pembangunan bangsa indonesia. Ribuan santri datang menuntut ilmu di pondok ini termasuk di antaranya adalah Paku Buana II atau Sunan Kumbul, Raden Ngabehi Ronggowarsito dan tokoh pergerakan nasional H.O.S Cokroaminoto.
 
Setelah Kyai Ageng Hasan Bashari wafat, beliau digantikan oleh putra ketujuh yaitu Kyai Hasan Yahya. Demikianlah Pesantren Tegalsari hidup dan berkembang dari generasi ke generasi. Namun pada pertengahan abad ke-19 atau pada generasi keempat keluarga Kyai Bashari, Pesantren Tegalsari mulai surut. Saat kepemimpinan Kyai Khalifah, ada seorang santri yang sangat menonjol dalam segala bidang. Namanya sulaiman Jamaluddin. Karena kedekatannya dengan Kyai maka Sulaiman diangkat menjadi mantu bahkan dipercaya untuk mendirikan pesantren sendiri di Desa Gontor.
 
Pondok Gontor lama.
Gontor adalah sebuah desa yang terletak kurang lebih 3km sebelah timur Tegalsari. Pada saat itu Gontor masih merupakan hutan belantara yang jarang didatangi orang. Hutan ini dekenal sebagai tempat persembunyian perampok, penjahat, penyamun dan pemabuk. Jelasnya, tempat ini adalah tempat kotor dan sumber dari segala kotoran. Dalam bahasa jawa, tempat yang kotor disebut nggon kotor, yang disingkat menjadi "gon-tor". Di desa inilah Kyai Sulaiman Jamaluddin diberi amanat untuk merintis pondok pesantren seperti Tegalsari dengan bekal 40 santri. Pondok inilah yang menjadi cikal bakal dari Pondok Modern Gontor saat ini.
 
Pondok yang didirikan Kyai Sulaiman berkembang pesat, khususnya ketika dipimpin oleh putra beliau, Kyai Archam Anom Besari. Setelah Kyai Archam wafat, pondok dilanjutkan oleh putranya yang bernama Kyai Santoso Anom Besari. Kyai Santoso Anom Besari adalah generasi ketiga dan pada masa inilah Gontor mulai surut. Kegiatan pendidikan dan pengajaran di pesantren mulai memudar. Kemunduran ini disebabkan kurangnya perhatian terhadap kaderisasi.
 
Setelah Kyai Santoso wafat, Pondok Gontor benar-benar mati.Saudara-saudara beliau tidak ada yang sanggup untuk mempertahankan pondok. Yang tinggal hanyalah Nyai Santoso beserta ketujuh putra putrinya dengan peninggalan sebuah rumah sederhana dan masjid tua. Melihat kejadian ini, Nyai Santoso tidak mau tinggal diam. Karena itu, beliau mengirimkan tiga putranya ke beberapa pesantren dan lembaga pendidikan untuk memperdalam agama. Mereka adalah Ahmad Sahal, Zainuddin Fanani dan Imam Zarkasyi. 
 
Pondok gontor baru.
Ketiga putra Nyai Santoso yang sering disebut "trimurti" itulah yang menghidupkan kembali Pondok Gontor. Pembukaan kembali Pondok Gontor itu secara resmi dideklarasikan pada Senin Kliwon, 20 September 1926 bertepatan dengan 12 Rabi’ul Awwal 1345 dalam peringatan Maulid Nabi di hadapan masyarakat.
 
1. Pembukaan tarbiatul athfal, 1926.
Langkah pertama untuk menghidupkan kembali pondok gontor adalah dengan membuka Tarbiatul Athfal [TA], suatu program pendidikan tingkat dasar. Materi, sarana dan prasarana pendidikan sangat sederhana. Tetapi, berkat kesungguhan pengasuh gontor baru, usaha ini membangkitkan semangat belajar masyarakat Desa Gontor. Minat yang sangat tinggi ini diantisipasi dengan mendirikan cabang-cabang TA di desa-desa sekitar Gontor yang ditangani oleh kader yang telah disiapkan.
 
2. Pembukaan Sullamul Muta’allimin, 1932.
Setelah enam tahun TA berdiri, mulailah dipikirkan upaya untuk pengembangan TA dengan membuka program lanjutan yang di beri nama "Sullamul Muta’allimin" [SA], tahun 1932. Pada tingkat ini, para santri diajari secara lebih mendalam dan luas ilmu-ilmu agama, pidato, diskusi, juga diberi sedikit bekal untuk menjadi guru. Disamping itu, mereka juga diajari ketrampilan, kesenian, olahraga, kepanduan dan lainnya.
 
3. Pembukaan Kulliyatul Mu’allimmin Al-Islamiyyah, 1936.
Kehadiran TA dan SA telah menggugah minat belajar masyarakat. Perkembangan tersebut cukup menggembirakan hati dan sangat disyukuri oleh Pengasuh Pesanten. Kesyukuran yang ditandai dengan acara 10 tahun pondok, menjadi semakin lengkap dengan pembukaan program pendidikan baru tingkat menengah pertama dan menengah atas yang dinamakan Kulliyatul Mu’allimin Al-Islamiyyah [KMI] atau sekolah guru islam, yang menandai kebangkitan sistem pendidikan modern di lingkungan pesantren.
 
    Next posts »»